Senin, 16 November 2009

Entries tagged as ‘bisnis’

Pusat Perbelanjaan akan lebih marak di luar ibukota @ mesin kasir

Bisnis pusat perbelanjaan diperkirakan kembali marak pada 2010, terutama di luar kawasan Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Saat itu, bisnis properti ritel kembali menggeliat sejalan dengan pemulihan ekonomi dunia dan memveri peluang investor mendapatkan keuntungan investasi yang berlipat. Menurut Senior Advisor Pusat Studi Properti Indonesia Benyamin Ginting mengatakan, pasokan pusat perbelanjaan di Ibukota pada kuartal II-2008 mulai memperlihatkan titik jenuh. Oleh karena itu, pada 2009 ini diperkirakan beberapa kota di Indonesia akan menjadi tujuan ekspansi pembangunan pusat perbelanjaan. Daerah itu adalah Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Yogyakarta, Solo, Makassar, Samarinda, serta beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Ia menilai, beberapa pengembang ritel tetap akan ekspansi meski penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 20% sepertinya untuk sementara ini tidak menunjukkan pengaruh terhadap penurunan bahan-bahan bangunan seperti semen dan baja konstruksi. “Memang, akan tetap banyak pengembang yang akan mengambil langkah menunggu dan melihat kebijakan pemerintah dalam tiga bulan ke depan. Mereka juga berpikir ulang sebelum menetapkan harga jual propertinya dalam kondisi daya beli masyarakat seperti sekarang,” ujarnya di Jakarta, pekan ini. PT Pancakarya Griyatama (Trivo Group) adalah salah satu pengembang yang tetap melanjutkan proyek mix used, yakni Tangerang City yang berada tepat di pusat kota Tangerang. Setelah membangun Premium Business Park, Trivo Groupakan membangun pusat perbelanjaan yang ditargetkan selesai pada 2010. Pengembang ini menawarkan ruang ritel dengan harga sekitar Rp 42 juta per meter persegi. “Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi daya beli masyarakat yang sedang melemah. Harga ini kemungkinan tetap dipertahankan selama pasar masih belum memperlihatkan gairahnya,” kata Ian Wisan MBA, wakil direktur PT Pancakarya Griyatama. “Jika terjadi peningkatan harga properti sebesar 15-20%, pada 2010 harganya akan menjadi Rp 60 juta per meter persegi. Jadi, tak salah jika banyak pengamat properti menyarankan untuk membeli unit properti sekarang mumpung harganya masih rendah,” tambah Ian Wisan. Stabil Sementara itu, menurut hasil riset Cushman & Wakefield Indonesia selama kuartal IV-2008 menyebutkan, tingkat hunian pada pusat perbelanjaan sewa turun sebesar 1,3% dari angka 2007 menjadi 84,6% pada akhir 2008. Hal itu terutama karena tingkat hunian yang masih rendah pada pusat-pusat perbelanjaan yang baru dibuka. Sementara itu, tingkat hunian pusat perbelanjaan strata-title turun 0,8% menjadi 64,7% pada akhir 2008. Pada akhir Desember 2008, total pasokan kumulatif ruang ritel di Jakarta tercatat sebesar 3.080.100 m2, yang terdiri dari 1.958.000 m2 (63,6%) pusat perbelanjaan sewa dan 1.122.097 m2 (36,4%) pusat perbelanjaan strata-title. Sampai dengan akhir 2009, akan terdapat sekitar 293.100 m2 ruang ritel baru yang masuk ke pasar pusat perbelanjaan di Jakarta. Sebanyak 73,2% (214.600 m2)dari pasokan mendatang datang dari pusat perbelanjaan sewa, sedangkan hanya 26,8% (78.500 m2) merupakan ruang ritel strata-title. Apabila seluruh pasokan mendatang ini diselesaikan tepat pada waktunya, total pasokan ruang ritel di Jakarta akan mencapai 3.403.600 m2 pada akhir 2009. Cushman & Wakefield Indonesia melaporkan, harga sewa ruang ritel premium di lantai dasar pada pusat perbelanjaan di Jakarta tetap stabil dalam mata uang rupiah selama 2008, sedangkan dalam dolar AS turun karena melemahnya nilai tukar rupiah sebesar 14% sepanjang tahun lalu. Dibandingkan dengan akhir 2007, harga sewa dasar ruang ritel rata-rata dalam rupiah naik sebesar 0,9%, sedangkan dalam US$ turun sebesar 13,2%. Pada Desember 2008, harga sewa dasar rata-rata ruang ritel di Jakarta adalah Rp 665.700 per m2 per bulan untuk toko-toko speciality di lokasi-lokasi premium di lantai dasar. Service charge berkisar US$ 9 – 14,5 per m2 per bulan, dengan nilai tukar yang diterapkan Rp 7.000-9.000/US$. Penundaan tahap konstruksi dan pemasaran awal beberapa pusat perbelanjaan baru yang masih dalam tahap perencanaan yang sudah terjadi sejak akhir 2008 diperkirakan berlanjut tahun ini. Namun, tingkat komitmen awal yang tinggi pada beberapa pusat perbelanjaan yang sedang dibangun menjamin tingkat penyerapan ruang ritel pada 2009. “Hal itu akan membuat permintaan kumulatif ruang ritel diproyeksikan tumbuh hampir 9% tahun ini,” demikian tertulis dalam riset itu. Penyewa lokal yang bergerak dalam bidang F&B akan mendominasi aktivitas sewa pusat perbelanjaan, sedangkan penyewa internasional (baik F&B maupun non-F&B) diperkirakan menunda rencana ekspansi mereka. Ian Wisan mengatakan, pihaknya telah menggandeng hipermarket terbesar di Indonesia, Carrefour, untuk mengisi dua level lantai di pusat perbelanjaan yang dipasarkannya. Sementara itu, layanan hotel bintang empat akan ditangani oleh Accor Management. Ia optimisis, pusat perbelanjaan di Tangerang City mampu bersaing karena dilengkapi fasilitas multifunction hall dan meeting room yang terintegrasi dengan kondominium dan hotel. (tk)

Kategori: artikel · bisnis · econimic · grosir · keuangan · ritel · sektor riil · waralaba
Ditandai: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Peluang Bisnis Melalui Internet@Mesinkasir

Januari 24, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Penggunaan Internet belakangan Ini semakin banyak diminati oleh banyak orang karena dirasakan semakin banyak manfaatnya dalam meningkatkan kinerja dan efektivitas kerja.internet digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan sekaligus meningkatkan keuntungan mereka.
Lembaga-lembaga pendidikan berlomba-lomba mempromosikan keunggulan lembaganya melalui internet.Hampir semua bidang usaha berusaha memanfaatkan internet untuk meningkatkan daya saingnya dimata konsumen.
Sebaliknya konsumen pun telah memanfaatkan internet dalam memilih produk-produk yang mereka inginkan. Dewasa ini penggunaan internet tidak terbatas hanya untuk mencari informasi saja,tetapi digunakan untuk keperluan lainnya.
Dengan Internet orang yang berada ditempat yang berbeda dan jauh dapat saling berkomunikasi bahkan dapat saling bertemu dan berbicara seolah-olah mereka berada di satu tempat yang sama.Proses semacam ini dapat terselenggara melalui tekhik yang disebut dengan video streaming. Teknologi ini dapat dimanfaatkan misalnya oleh para TKI yang bekerja diluar negeri.Bagi para TKI yang meninggalkan keluarganya untuk bekerja diluar negeri keberadaan internet untuk berkomunikasi menjadikan mereka dapat selalu dekat dengan keluarganya walaupun secara fisik mereka terpisah jauh.
jadi anda tidak perlu heran apabila melihat seorang TKI memanfaatkan internet untuk bertemu dan berkomunikasi dengan keluarganya untuk melepas rindu. Dengan menggunakan tehnik streaming dimungkinkan juga seorang ibu yang sedang berada diluar negeri karena mendapat tugas belajar misalnya memantau perkembangan anaknya yang sedang bersekolah didalam negeri.Internet telah menjadi dunia terasa dekat dan dapat dijangkau oleh semua orang.
Selain itu internet juga sering dimanfaatkan oleh perusahaan atau perorangan untuk mempromosikan produknya.Dengan mempromosikan produknya melalui internet diharapkan dapat memperluas pasar,sehingga bisa mencapai seluruh tempat didunia,sekaligus juga meningkatkan keuntungan bisnisnya.Meskipun pengguna internet masih terbatas tetapi ini akan terus meningkat ditahun-tahun yang akan datang.
Memanfaatkan internet untuk mendapatkan Informasi sudah sangat banyal di jumpai di sekitar kita, tetapi memanfaatkan internet untuk mendapatkan penghasilan mungkin belum banyak yang melakukan walaupun wacana tentang ini sudah banyak yang di bicarakan.
Salah satu peluang bisnis yang di jalankan melalui internet adalah layanan penyediaan informasi digital.ini merupakan suatu bisnis yang sangat menarik dan menantang dan memiliki prospek yang bagus dimasa yang akan datang.
Bisnis ini tidak membutuhkan modal yang besar ataupun proses produksi yang panjang dan rummit yang membutuhkan banyak orang untuk menjalankannya. Modal yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis ini adalah kemauan dan ide yang kreatif.selain itu bisnis ini bisa dijalankan seorang diri dan dikerjakan dari rumah.
Bayangkanlah suatu bisnis yang dapat di jalankan selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu.Bayangkan keuntungan yanga akan kita peroleh ketika menjalankan bisnis semacam itu.Bahkan bisnis semacam ini sangat menarik dan menguntungkan,bukan? ini bisa kita dapatkan jika kita menggunakan internet untuk menjalankan bisnis kita tersebut.Bandingkan dengan pekerjaan yang kita jalankan selama ini biasanya hanya berkisar 8-10 jam sehari dan lima hari seminggu. Bisnis ini menjadi semakin besar peluangnya untuk dikembangakan dengan memanfaatkan tehnologi ADSL.Tehnologi ADSL dapat menyediakan akses internet kecepatan tinggi memalui jaringan telepon yang sudah ada dan telah tersambung kerumah-rumah dan kantor-kantor.Dengan jaringan yang sudah ada setiap orang dapat mengakses internet dari rumah dan dapat menjalankan bisnis internet melalui internet dari rumah.maka peluang untuk berbisnis melalui internet menjadi semakin besar dan keuntungan yang bisa didapat dari bisnis ini menjadi terbuka untuk diraih.

Kategori: bisnis · econimic · ukm
Ditandai: , , ,

KIAT MENDAPATKAN EXTRA INCOME BAGI RETAILER@MESINKASIR

Untuk meminimasi biaya-biaya yang dikeluarkan oleh riteler, maka perlu ditemukan sumber-sumber uang yang dapat digunakan untuk mengurangi beban biaya tersebut.

Untuk memperbesar pendapatan (Income) yang diperoleh oleh suatu bisnis ritel, maka perlu adanya upaya untuk menggali potensi apa saja yang dapat diarahkan untuk menghasilkan pendapatan tambahan tersebut.

Dengan dikelolanya pendapatan tambahan tersebut, maka diharapkan sumber daya yang terbuang menjadi lebih sedikit, sedangkan sumber daya yang lainnya dapat lebih produktif pemanfaatannya.

Untuk mendapatkan pendapatan tambahan maka riteler harus mengetahui hal-hal apa saja yang dapat dijadikan sumber untuk mendapatkan tambahan income tersebut.

Berikut ini adalah sumber penghasil extra income bagi riteler, yaitu :
Karton/Kardus Bekas
Ujung Gondola
Palet display
Neon Box
Menyewakan tempat bagi tenant
Diskon dan Rabat
Rafaksi
Biaya Pembukaan Toko
Biaya Masuk Item Baru (listing fee)
Check Out Counter
Window Display
Memperpanjang T. O. P.
Tie in promotion
Menyewakan space untuk POP
Counter co-branding
SPG/SPM
Produk gratis untuk racer
Free sampling dan hadiah gratis

Ke-18 sumber pendapatan tersebut merupakan pendapatan tambahan diluar pendapatan dari selisih harga jual dengan harga beli. Karenanya retailer yang mampu mengoptimasikan sumber-sumber ekstra income tersebut akan memiliki tenaga tambahan untuk bertarung memenangkan pasar.

Kategori: artikel · bisnis · econimic · grosir · mesin kasir · sektor riil · waralaba
Ditandai: ,

WARALABA TERBUKTI SURVIVE BAHKAN DI MASA KRISIS @ mesinkasir



Siapa sangka bahwa format waralaba sudah dimulai sejak tahun 200 SM. Pada masa itu sebuah rantai toko makanan di Tiongkok menerapkan konsep distribusi dengan sistem waralaba lisensi produk/merek. Pada tahun 1863 perusahaan mesin jahit Singer di Amerika mulai merintis jaringan waralaba guna mendistribusikan mesin jahit yang diprodukasinya. Selanjutnya Coca Cola menjual waralaba pembotolan pertamanya tahun 1899. Kemudian diikuti oleh dealer mobil dan minyak pada tahun 1910. Namun pertumbuhan waralaba yang sebenarnya baru terjadi pada akhir era 1950-an, yaitu sistem waralaba yang dikenal dengan waralaba format bisnis.
Sampai tahun 1998, cara pendistribusian dengan waralaba diperkirakan mencapai lebih dari 50% dari total penjualan eceran di Amerika Serikat, dan pertumbuhan waralaba sama berhasilnya di negara-negara maju lainnya seperti: Kanada, Inggris, Jerman, dan Jepang. Negara-negara berkembang seperti Meksiko, Indonesia, dan Malaysia juga mendapatkan bahwa waralaba adalah cara yang efektif untuk menciptakan bisnis baru dan meningkatkan kesempatan lapangan kerja.
Di Indonesia sistem waralaba mulai dikenal pada tahun 1950-an, yaitu dengan munculnya dealer kendaraan bermotor melalui pembelian lisensi. Perkembangan kedua dimulai pada tahun 1970-an, yaitu dengan dimulainya sistem pembelian lisensi plus, yaitu franchisee tidak sekedar menjadi penyalur, namun juga memiliki hak untuk memproduksi produknya. Contoh format ini misalnya Coca Cola. Perkembangan sistem waralaba yang sebenarnya atau disebut waralaba format bisnis dimulai pada tahun 1980-an. Dalam waralaba format bisnis, franchisee tidak sekedar memproduksi dan menyalurkan produk/jasa, namun juga memperoleh hak penuh untuk mengkloning merek, logo, atribut, desain, tata letak, sistem prosedur operasional dan pemasaran dari franchisor. Contoh format ini misalnya Kentucky Fried Chicken.

Waralaba telah dipilih sebagai cara menjalankan usaha oleh lebih dari 2500 perusahaan di Amerika Serikat, karena terbukti memiliki peluang keberhasilan lebih tinggi dibandingkan format bisnis biasa. Sebagai perbandingan, format bisnis biasa memiliki peluang sukses 35-45 %, sedangkan peluang sukses perusahaan waralaba mencapai 85 – 90 %. Sementara orang berpikir bahwa waralaba hanya terbatas pada industri makanan siap hidang, kenyataan menunjukkan bahwa semua jenis bisnis yang mungkin ada, dapat diwaralabakan. Misalnya hotel, properti, rumah sakit, kursus, binatu, studio foto, minimart, spa, salon, bengkel, apotik, perawatan rambut, bengkel, kantor pos dan wartel/warnet dapat dikembangkan dengan format waralaba.
Perkembangan waralaba di Indonesia masih jauh dibandingkan Amerika Serikat. Dalam hal komposisi antara perusahaan waralaba lokal dengan waralaba asing pun, Indonesia tertinggal jauh. Sebagai gambaran pada tahun 1991 jumlah waralaba lokal mendominasi sampai 78 %, yaitu 21 perusahaan dari total 27 perusahaan. Namun dalam waktu hampir sepuluh tahun jumlah waralaba asing berhasil melampaui waralaba lokal. Sampai tahun 2000 waralaba asing mendominasi sampai 88 %, yaitu 240 perusahaan dari total 270 perusahaan (Manajemen, Desember 2000).
Yang menarik adalah kesuksesan waralaba untuk tetap tumbuh selama krisis moneter di Indonesia. Pada periode 1996 – 1999, usaha waralaba di Indonesia mampu tumbuh sebesar 12,5 %, di tengah pertumbuhan ekonomi nasional dibawah 3 % (Peluang, Juni 2000). Sebagian besar pertumbuhan ini diakibatkan oleh pertumbuhan waralaba lokal.
Pelajaran yang dapat diambil selama krisis moneter adalah, waralaba lokal ternyata mampu mengungguli pertumbuhan waralaba asing. Selisih kurs yang demikian besar antara rupiah dengan dollar, mengakibatkan waralaba lokal memiliki keunggulan kompetitif yang lebih baik untuk dikembangkan saat ini. Sebagai gambaran untuk membuka sebuah minimarket Indomaret dibutuhkan investasi 300-750 juta rupiah, bandingkan jika membeli hak waralaba Disc Go Round dari Amerika, investasi yang dibutuhkan sekitar 1.1 – 1.3 milyar rupiah. Bayangkan jika kita membeli hak waralaba dari merek yang lebih terkenal misalnya McDonald’s yang biaya investasinya bisa mencapai 423.000 – 651.00 USD (Franchise Opportunities Guide, IFA, 1996).

Dari uraian dan fakta diatas jelas terbukti bahwa jika dikelola dengan baik, dan manajemen memahami dengan tepat bagaimana konsep waralaba bekerja; Waralaba lokal ternyata mampu tumbuh dan berkembang seperti halnya waralaba asing. Jika demikian, mengapa belum juga mulai berwaralaba? Mumpung masih banyak pasar yang tak bertuan di bumi pertiwi tercinta ini.

sumber : mitrawaralaba.com

Kategori: artikel · bisnis · econimic · mall · marketing · mini market · ritel · ukm · waralaba
Ditandai: , , , , , , , , , , , , ,

Negara Terancam Rugi Rp 35,75 Miliar@Mesinkasir


Negara berpotensi kehilangan penerimaan sekitar Rp35,75 miliar, hingga akhir tahun 2010 akibat pemberlakuan tarif fiskal ke luar negeri (FLN) yang mulai diterapkan pada 16 Januari 2009 di Bandara Polonia, Medan.

Kepala Unit Pelaksana Fiskal Luar Negeri Bandara Polonia, Mulyanto, mengatakan, ancaman kerugian bisa terjadi karena penumpang pesawat di Bandara Polonia baik WNA dan WNI, yang berangkat ke luar negeri cukup menunjukkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan langsung bebas dari pungutan fiskal. Sementara tanpa kebijakan ini, negara bisa mendapatkan Rp 50 juta setiap harinya.

Sementara itu, pada hari pertama pemberlakuan fiskal yakni 16 Januari 2009 di Bandara Polonia, hingga pukul 15.00 WIB terdapat 14 WNI yang tidak memiliki NPWP, dan diharuskan membayar tarif FLN masing-masing sebesar Rp 2,5 juta per orang. Mulyanto menambahkan, “Hingga saat ini, dari 234 penumpang pesawat yang berangkat ke Singapura dan Malaysia, hanya 14 orang yang membayar fiskal, atau totalnya senilai Rp 35 juta.”

Sebelumnya, Kantor Unit Pelaksana Fiskal Luar Negeri Bandara Polonia menangguhkan pemberlakuan tarif FLN bagi WNI, yang tidak memiliki NPWP hingga 15 Januari 2008, untuk melakukan sosialisasi di lingkungan maskapai dan pengguna jasa pesawat udara. (kpl/bar)

Sumber:Kapanlagi.com

Kategori: bisnis · econimic · krisis ekonomi
Ditandai: ,

Lika-Liku Sriboga Menguasai Pizza Hut @ mesin kasir

Nama Sriboga memang kalah populer dibanding Pizza Hut. Tapi tahukah Anda bahwa pemilik restoran pizza terbesar di Indonesia itu adalah Sriboga Raturaya (Sriboga). Pada Juli 2008, Sriboga mengakuisisi 66% saham Pizza Hut Indonesia yang dimiliki oleh PT Recapital Advisory (Recapital), perusahaan private equity. Dengan akuisisi itu, kepemilikan saham Sriboga menjadi 91%. Ya, sebelumnya Sriboga telah memiliki 25% saham perusahaan pelopor bisnis pizza itu. Sementara itu, 9% saham Pizza Hut dimiliki oleh beberapa individu.

Tak banyak yang tahu bahwa keluarga Bustanul Arifin adalah salah satu owner Pizza Hut. Keluarga mantan Menteri Koperasi rezim Orde Baru itu memegang 25% saham Pizza Hut melalui Sriboga. Sisanya, 75% saham Sriboga dikuasai oleh Recapital.

Kalau dilihat dari proses akuisisinya, transaksi Pizza Hut boleh dikatakan sebagai akuisisi internal. Mula-mula Recapital tercatat sebagai pemegang 80% saham Pizza Hut, lalu saham itu diakuisisi oleh Sriboga. Ujung-ujungnya, penyandang dana terbesar di Sriboga ternyata Recapital juga.

Sejarah akuisisi Pizza Hut dimulai pada empat tahun lalu. “Tahun 2004 saya tidak ada niat untuk ikut tender dalam mengambil alih Pizza Hut. Namun, berhubung pemenang tender tersangkut kasus L/C BNI, pihak Schroder Investment Hong Kong membatalkan dan melakukan tender lagi,” jelas Alwin Arifin, presdir Sriboga, yang putra Bustanul Arifin. “Lalu, majulah saya yang di-backup Recapital sebagai silent partner,” imbuhnya. Nah, begitu selesai transaksi, nama resmi pembeli Pizza Hut adalah Recapital.

Menurut Alwin, alasan seretnya modal itulah yang harus melibatkan pihak ketiga. Maklumlah, waktu itu pihaknya butuh dana sangat besar dan Sriboga belum memiliki funding memadai. Pada 2004, Pizza Hut dilego senilai US$ 42 juta. Karena Recapital perusahaan investasi, setelah nilai investasinya meningkat, Pizza Hut dilepas lagi. “Dan siapa lagi yang paling dekat dengan Pizza Hut ini selain kami (Sriboga),” ucap Alwin.

Perubahan kepemilikan ternyata tidak menambah masuknya orang Sriboga ke jajaran direksi Pizza Hut. Hanya satu orang Sriboga saja yang duduk di dewan direksi. Namanya Ade Ferial sebagai direktur keuangan yang menjabat sejak 2004. Namun, ada penambahan jumlah komisaris sejak Sriboga menguasai Pizza Hut, yakni dari satu menjadi tiga komisaris.

Yang menarik, Pizza Hut hanyalah salah satu lini bisnis Sriboga. Selain usaha fastfood itu, rupanya Sriboga dikenal sebagai pemain besar industri tepung terigu, pabrik roti berlabel Prabu, serta perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Rencananya pabrik roti Prabu dan kebun kelapa sawit itu akan di-spin off pada 2009.

Dari ketiga unit bisnis lain, Alwin mengklaim Pizza Hut menjadi tulang punggung perusahaan. “Hingga kini Pizza Hut paling menguntungkan,” ujarnya. Tidak salah jika Alwin berkata demikian. Stephen McCarthy memperkirakan hingga akhir tahun 2008, omset resto di bawah bendera PT Sarimelati Kencana itu mencapai Rp1 triliun. Jumlah itu naik 20% dibanding pencapaian penjualan tahun 2007: Rp800 miliar. Tak mengherankan, jika Pizza Hut akan terus ekspansif karena respons pasar sangat bagus. “Tahun 2009 kita akan buka 195-200 outlet baru Pizza Hut dengan lokasi mayoritas di Jabodetabek,” ungkap Presdir PT Sarimelati Kencana itu. Rata-rata tiap pembukaan gerai baru menyedot dana investasi Rp3–3,5 miliar. Saat ini total outlet Pizza Hut 169 cabang, padahal tahun 2004 cuma ada 84 gerai.

Di luar Pizza Hut, kinerja Sriboga sebagai holding tak kalah bagusnya. Perusahaan yang didirikan tahun 1994, tapi baru membangun pabrik tepung terigu pada 1995 di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang itu memiliki kapasitas terpasang 1.500 ton/hari. Tapi, sejauh ini penggunaan kapasitas baru 70% atau memproduksi sekira 800 ribu bag/bulan. Sebanyak 250 ton/bulan tepung Sriboga diekspor ke Korea, Thailand, dan Pilipina. Sisanya untuk pasar domestik. Bahan bakunya: gandum 100% diimpor dari luar negeri. “Market share Sriboga sekarang sekira 7%, nomor tiga setelah Bogasari (70%),” Alwin mengungkapkan.

Hingga kini Sriboga telah menghasilkan delapan jenis tepung terigu dengan kadar protein yang berbeda-beda. Ada tepung terigu dengan brand Tali Emas, Beruang Biru, Pita Merah, Tali Emas Special, Naga Emas, Naga Biru, Naga Merah, dan Naga Hijau. Produk itu dibeli oleh beberapa segmen pasar: ritel, korporat, dan UKM.

Kategori: artikel · bisnis · econimic · mall · marketing · ritel · sektor riil · waralaba
Ditandai: , , , , , , ,

Teliti Sebelum Membeli Franchise @ mesinkasir

Janji franchisor bisa membukukan BEP dalam waktu singkat jangan langsung dipercaya. Perlu kehati-hatian dalam memilih franchise yang prospektif.

Bisnis harus melahirkan profit. Prinsip itulah yang harus dipegang oleh para franchisee atau pembeli waralaba dalam menentukan pilihannya. Jangan pernah terkecoh oleh manisnya janji-janji para franchisor. Tetapi bukan berarti Anda harus mengedepankan kecurigaan yang berlebihan. Franchise terbukti banyak memberikan keuntungan terhadap para investornya. Hanya saja kejelian perlu dimiliki oleh para calon investor.
Sinyalemen Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), Anang Sukandar perlu menjadi perhatian para franchisee. Disebutkan, dari 129 franchise lokal, hanya 15%-nya saja yang franchiseable atau memenuhi syarat sebagai franchise. Sisanya belum bisa dikategorikan sebagai usaha franchise tetapi sudah mengklaim sebagai usaha waralaba. Mereka ini baru bisa dimasukkan sebagai business opportunity.
Lalu apa yang harus menjadi pegangan bagi franchisee dalam memilih waralaba? Secara instan, ada dua hal yang perlu menjadi perhatian para franchisee sebelum membeli sebuah usaha franchise. Pertama, usaha yang difranchisekan tersebut harus sukses dahulu. Bagaimana membuktikannya? Sebuah usaha franchise bisa dikategorikan sukses dapat dibuktikan dengan neraca keuangan rugi laba. Bisa juga dibuktikan dengan kasat mata lewat jumlah customer, misalnya antrian pelanggan di counter usaha tersebut.
Kedua, usaha tersebut memiliki keunikan atau differensiasi. Kunikan yang dimiliki usaha tersebut untuk membedakan dengan usaha-usaha lainnya yang sejenis di industrinya. Mengapa keunikan ini penting? Karena keunikan ini menjadi nilai tambah yang akan menjadi daya tarik bagi customer. Keunikan bisa ditentukan dari produknya, bisa juga lewat layanannya. Sekedar contoh, gado-gado yang menambah bumbunya dengan kacang mede akan berbeda dengan bumbu kacang tanah saja. Jadi, tambahan kacang mede tersebut akan menambah nikmat rasa bumbu gado-gado. Itulah keunikan atau differensiasi.
Lainnya yang juga penting diperhatikan oleh para franchisee adalah usaha franchise yang ditawarkan tersebut harus mempunyai sistem dan standar operasional yang baku. Konsep ini pun implementasinya harus sudah teruji di lapangan, tidak hanya sekedar teori. Maka, tidak salah jika calon investor mencoba untuk mengenal dapur operationalnya secara dalam.Yang tidak kalah penting, franchisee juga perlu mengenal program pemasaran dari franchisor. Program pemasaran ini berkaitan erat dengan masa depan usaha menghadapi tingkat persaingan di industrinya. Program pemasaran franchisor tidak bisa diabaikan begitu saja karena menyangkut upaya untuk meningkatkan awareness dan image brand dari waktu ke waktu.

Investigasi
Sekali lagi, kehati-hatian menjadi factor penting bagi franchisee dalam memilih franchise untuk menghindari kegagalan di masa depan. Sekarang ini, perkembangan usaha franchise sangat pesat dan terus tumbuh seperti cendawan di musim hujan. Tetapi, data yang ada menunjukkan peluang sukses waralaba baru 60%. Fakta tersebut kalah jauh dibandingkan dengan di Amerika yang peluang suksesnya di atas 90%. Karena itu, franchisee perlu melakukan investigasi terhadap usaha yang diliriknya sebelum memutuskan untuk membelinya.
Investigasi yang perlu dilakukan para franchise menyangkut, pertama, kredibilitas dan akuntabilitas franchisor serta bisnis franchise-nya. Mengapa ini perlu dilakukan? Setidaknya untuk mendapatkan jawaban yang lebih pasti bahwa usaha yang akan dibeli itu bisa diandalkan. Caranya, periksa reputasi perusahaan tersebut dan nama-nama pemegang sahamnya. Para franchisee bisa mengusut dan menanyakan siapa para CEO-nya, latar belakang mereka dan bagaimana komitmen mereka terhadap usahanya itu. Jika mereka termasuk yang hit and run, sebaiknya ditinggalkan saja.
Kedua, Franchisee juga perlu mengetahui secara jeli struktur organisasi dari perusahaan franchise dan fungsi dari bidang masing-masing. Kenapa ini perlu? Perusahaan yang tidak solid, sudah pasti tidak akan bisa bertahan lama. Nah, kekompakan sebuah perusahaan bisa dilihat dari struktur organisasinya dan staf-stafnya yang mengisi pos masing-masing bagian. Mereka yang mengisi pos-pos di setiap bagian struktur organisasi tersebut yang akan membantu dan memberikan support kepada para franchisee. Jika tidak solid dan tidak kapabel, bagaimana mungkin bisa memberikan advice kepada para franchisee.
Ketiga, jangan hanya mengandalkan investigasi dari luar, lakukan juga dari dalam perusahaan franchisor. Langkah ini perlu dilakukan untuk mengukur klaim yang dilakukan franchisor kepada para investornya. Caranya, datangi perusahaan franchisor, amati suasana dan keadaan di perusahaan tersebut. Cobalah berbicara dengan para staf di perusahaan tersebut untuk mengetahui sistem bantuan yang akan diberikan nantinya.
Keempat, cari tahu siapa saja para franchisee dari usahan tersebut dan berdialoglah dengan mereka. Sebab, dari mereka ini informasi bisa didapat lebih objektif, sekaligus untuk mendapatkan data penjualan dan kemungkinan keuntungan yang bisa diraih. Jika ada mantan franchisee dari usaha ini, perlu juga dikejar untuk mengetahui sebab-sebab pemutusan hubungan.
Kelima, bandingkan dengan dua atau tiga usaha franchise sejenis atawa kompetitornya untuk mendapatkan perbandingan yang lebih objektif sebelum memutuskan membelinya. Bisa jadi, punya kompetitor usaha franchise tersebut jauh lebih baik.
Terakhir, cari second opinion dari sang ahli atau para konsultan franchise sebelum memutuskan membeli waralaba. Pendapat para ahli ini bisa menjadi panduan paling sempurna untuk menghindari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan, baik menyangkut hukum, brand peruahaan maupun peluang bisnisnya.

Sumber : www.majalahfranchise.com

Kategori: artikel · bisnis · econimic · grosir · keuangan · mall · marketing · mesin kasir · ritel · sektor riil · ukm · waralaba
Ditandai: , , , , , , ,

Ekonomi RI TUmbuh 0,6 %@Mesinkasir

INILAH.COM, Jakarta – Bank Dunia akan merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2008 dari 6,4% menjadi sekitar 6,0% akibat perlambatan ekonomi AS.

Namun hal itu diperkirakan tidak akan mempengaruhi pencapaian target penurunan kemiskinan pemerintah.

“Itu masih pertumbuhan yang baik. Proyeksi 6,0%, yang didorong membaiknya kebijakan makro ekonomi, terutama kebijakan fiskal. Dan penurunan itu cukup tipis karena hanya dari 6,4% menjadi 6,0%,” kata Country Director Bank Dunia untuk Indonesia Joachim von Amsberg di Jakarta, Selasa (25/3).

Ia menambahkan, level 6,0% masih memungkinkan penciptaan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan, meskipun tidak secepat level 7% – 8%.

Pertumbuhan 6,0% masih cukup bagus untuk Indonesia di tengah ekonomi global yang sedang terguncang,” jelasnya.

Ditanya apakah pertumbuhan bisa lebih tinggi dari level itu jika pemerintah bisa memanfaatkan momentum tingginya harga komoditas, von Amsberg mengatakan, jika pemerintah bisa memanfaatkan momentum kenaikan harga produk komoditas global, maka pemerintah akan punya ruang untuk menambah subsidi yang kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan sosial dan publik.

Ia menambahkan, saat ini ada tiga langkah strategis yang bisa dilakukan pemerintah untuk mempercepat penciptaan lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan, yaitu memperbaiki iklim investasi, mempermudah akses pendidikan, dan sistem jaring pengaman sosial yang efektif dan tepat sasaran.

“Jika Indonesia ingin mencapai pertumbuhan di atas 6,0%, maka Indonesia harus bergantung pada tingkat investasi yang tinggi baik, pemerintah atau swasta,” tuturnya.[*/L2]

Sumber berita:inilah.com

Kategori: artikel · bisnis · krisis ekonomi · sektor riil · ukm
Ditandai: ,

Break Even Point di Franchise Bisa Dipercepat @ mesinkasir



Setiap pelaku usaha menginginkan secepatnya meraih untung. Karena sejatinya, itulah tujuan bisnis. Adakah cara meraih untung yang cepat sehingga bisnis yang dimulai bisa meraih BEP dalam waktu singkat?
Salah satu performa bisnis franchise yang selalu dipertanyakan oleh para franchisee sebelum membeli hak waralaba, biasanya menyangkut berapa lama bisnis tersebut bisa BEP (break event point). Poin ini sangat wajar dipertanyakan, karena setiap pebisnis punya motivasi yang sama, yakni meraih untung. Apalagi di bisnis franchise, sebisa mungkin harus terukur seperti kapan BEP-nya. Jika tidak, siapa yang mau membeli franchise.
Namun, adakah cara yang bisa mempercepat BEP dalam waktu yang lebih singkat? Menurut Tung Desem Waringin, semua bisnis, semua outlet franchise sangat mungkin untuk bisa meraih BEP secara cepat. Tetapi, ada beberapa tahapan dan persyaratan yang harus diperhatikan. Motivator bisnis yang biasa dipanggil TDW itu menyarankan pelaku bisnis untuk memperhatikan dua tahapan.

Tahap pertama, sebelum membeli franchise. Pada tahap ini, pelaku usaha harus mengamati beberapa hal. Pertama, bisnis yang dijalankan layak tumbuh. Di sini, franchisee harus jeli melihat model atau induk bisnisnya. Jangan hanya percaya pada pernyataan franchisor bahwa bisnis tersebut sangat menjanjikan. Sebab, tidak jarang para pelaku usaha yang langsung memfranchisekan usahanya sebelum meraih BEP. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin franchisee bisa menjalankan secara menguntungkan kalau franchisornya saja tidak mampu membuktikannya.
Jika BEP franchisor diperoleh dari menjual hak waralaba, bukan dari kinerja produknya, hal itu bukan bukti bahwa bisnis tersebut menjanjikan. Karena itu, sebuah bisnis harus berjalan sekitar 4-5 tahun sebelum difranchisekan. Cara ini untuk membuktikan bahwa bisnis tersebut sudah BEP dan sustain sebagai ukuran untuk mengestimasi kemungkinan waktu BEP yang bisa diraih oleh para investor (franchisee).
Mengapa hal ini penting? Karena bisnis yang dirancang tidak selalu harus berhasil. Menurut TDW, kemungkinan sebuah bisnis tidak berhasil di tahun pertama sangat besar. Dari 100 bisnis yang muncul, 80% mengalami kegagalan di tahun pertama. Sisanya yang 20%, itu pun tidak 100% akan berhasil. Dari yang 20% itu, 80%-nya akan mati juga di tahun keempat. Sehingga di tahun kelima, yang bisa sustain hanya 4%. Disinilah pentingnya para franchisee harus melihat masa bertahannya sebuah bisnis.

Kedua, tungguin outlet franchisornya seharian. Cara ini untuk melihat bagaimana mereka (franchisor) menjual produknya dan untuk mengukur tingkat laku dan tidaknya produk yang dimiliki franchisor. Dalam hal ini, franchisee harus benar-benar waspada, jangan sampai hanya melihat kinerja penjualan produk di atas kertas saja. “Tongkrongin. Jadi harus lebih waspada, tidak sekadar hitungan di atas kertas saja. Lihat juga trennya slama 3 tahun, tahan atau tidak,” kata TDW.

Ketiga, lihat pula sistem marketingnya. Menurut TDW, franchise yang bagus dan teruji adalah yang grafik ketika memulainya tinggi dan ramai lalu setelah itu stabil. Stabil karena bisnis tersebut sudah punya sistem untuk menggedor pasar ketika opening outlet-nya.

Pada tahap kedua, yakni setelah terlanjur beli franchise. Di sini franchisee bisa melakukan upaya untuk mempercepat BEP. Ada beberapa cara yang disarankan oleh TDW, diantaranya, pertama, marketing revolution. Langkah pertama ini agar bisnis ramai diminati konsumen. Dalam melakukan marketing revolution ini pelaku usaha harus fokus pada tiga hal yang disederhanakan menjadi USP, yakni:

1. Unlimited advanted (nilai tambah). Nilai tambah bisa berupa harga murah, parkir gratis dan juga hal-hal yang bisa membuat konsumen penasaran.
2. Sensational offer. Yakni tawaran yang lebih menggiurkan kepada konsumen untuk melakukan aksi pembelian. Contohnya seperti yang dilakukan Lion Air dengan program: “Terbang dengan Lion Air, pulang bawa BMW”. Nah, Sensational offer ini menurut TDW ada tiga, yakni hadiah, diskon dan limit. Limit mengundang rush. Dengan begitu, BEP bisa dengan cepat diraih.
3. Powerfull promise. Misalnya dengan memberikan garansi yang luar biasa.

Kedua, berikan penawaran yang konsumen tidak bisa menolaknya. Ketiga, copywriting yang harus mengena dengan target market. Keempat, gunakan 12 jurus yang cukup ampuh dan sangat mengena terhadap market, yaitu, press release publishity, reference, endorshment, iklan utamakan dengan barter, direct sales, direct agent, direct mail, house benefesary/ada induknya, telemarketing, joint venture, canvasing/pameran dan seminar.

Menurut TDW, cara-cara untuk mempercepat BEP tersebut tidak sulit. Kuncinya, harus bisa jualan. Dan itu harus mengikuti konsep yang disebut TDW sebagai marketing revolution. “Sangat gampang,” kata penulis buku Financial Revolution tersebut.
Kuncinya, tandas TDW, terletak pada marketing, kontrol dan SDM. Tiga hal ini menjadi satu kesatuan. Untuk mengukur SDM itu baik, bisa dilihat dari produktifitasnya yang harus terkait langsung dengan penghasilannya. “Tanpa kecuali, semua jenis usaha bisa mempercepat BEP. Syaratnya yang tadi saya ungkapkan,” tandasnya.
Marketing
Namun, jika produknya tidak mendukung, sistem marketingnya tidak jalan dan sales-nya tidak punya passion, akan menjadi kendala bagi bisnis yang dijalankan untuk meraih BEP secara cepat.

Sumber : Majalah Info Franchise Indonesia
majalahfranchise.com

Kategori: artikel · bisnis · econimic · grosir · kredit · krisis ekonomi · marketing · mini market · ritel · ukm · waralaba
Ditandai: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sunset Policy diperpanjang hingga akhir Februari @ mesin kasir

Jakarta (ANTARA News) – Pemerintah memperpanjang program “sunset policy” hingga 28 Februari 2009 untuk merespon antusiasme wajib pajak (WP) untuk memanfaatkan fasilitas hapus sanksi pajak yang seharusnya berakhir pada 2008.

“Sekarang ini banyak WP yang merasa kecewa atau bahkan marah karena tidak terlayani,” kata Dirjen Pajak, Darmin Nasution di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan, perpanjangan sunset policy hingga 28 Februari 2009 hanya menyangkut WP lama yang sudah memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP) sebelum tahun 2008. Sedangkan bagi yang baru mengurus di tahun 2008, diberi waktu lebih lama hingga 31 Maret 2009.

Alasan perpanjangan, menurut Darmin, antara lain karena pemerintah mencermati besarnya antusiasme masyarakat dalam memanfaatkan sunset policy.

Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal Desember 2008. Sebelum Desember, warga yang mengurus NPWP rata-rata hanya 7.000 hingga 8.000 orang per hari, namun pada Desember, meningkat menjadi 50.000 hingga 100.000 orang per hari.

Ditjen Pajak sebenarnya sudah menetapkan standar operasi dan prosedur (SOP) terkait pemanfaatan sunset policy, namun karena jumlah WP sangat banyak, maka petugas pajak kewalahan. Saat satu WP belum selesai dilayani, sudah datang lagi WP lainnya.

“Di sini ada banyak penumpukan permintaan di mana aparat kita di lapngan minta waktu untuk memprosesnya, karena antusiasme yang sangat tinggi maka banyak yang kecewa bahkan marah karena tidak dilayani,” jelasnya.

Menurut dia, pemerintah menghargai masyarakat yang bersusah payah memanfaatkan fasilitas sunset policy sehingga mereka mengalokasikan waktu lebih lama melakukan pengurusan di kantor pajak.

Melihat antusiasme itu, pemerintah menyimpulkan bahwa jika diberi perpanjangan, maka basis pajak orang pribadi nasional akan semakin kuat sehingga dampak fluktuasi kegiatan bisnis yang akan terjadi, dapat diredam.

Hal itu karena penerimaan pajak dari WP orang pribadi relatif lebih stabil
dibanding perusahaan.

“Misalnya kalau penjualan perusahaan turun, maka laba turun sehingga pembayaran PPh badan dan PPN juga turun, sementara kalau perorangan, pengaruhnya lebih lambat,” katanya.

Ia menyebutkan, terkait perpanjangan program sunset policy itu, pemerintah tengah menyusun dasar hukumnya dan diharapkan dapat diselesaikan secepatnya.(*)

Kategori: artikel · bisnis · econimic · keuangan
Ditandai: , , , , , , , ,


0 komentar:

Poskan Komentar

thanks ya kauwanD dagh mau Bercomment Ria diBlog AKyuuu..... No SPAM . .!!! okayyyhhh......^-^v