Selasa, 12 Oktober 2010

TUGAS I ETIKA BISNIS " SOFTSKILL " 4EA01

Nama : Nur Anisa Eka Utami
Npm : 10207810
Kelas : 4EA01
Tugas : ETIKA BISNIS “ SoftSkiLL “

TUGAS I
ETIKA BISNIS

Pengertian Etika
Etika merupakan ilmu yang mendalami standar moral perorangan dan standar moral masyarakat. Ia mempertanyakan bagaimana standar-standar diaplikasikan dalam kehidupan kita dan apakah standar itu masuk akal atau tidak masuk akal – standar, yaitu apakah didukung dengan penalaran yang bagus atau jelek.
Etika merupakan penelaahan standar moral, proses pemeriksaan standar moral orang atau masyarakat untuk menentukan apakah standar tersebut masuk akal atau tidak untuk diterapkan dalam situasi dan permasalahan konkrit. Tujuan akhir standar moral adalah
mengembangkan bangunan standar moral yang kita rasa masuk akal untuk dianut.
Etika merupakan studi standar moral yang tujuan eksplisitnya adalah menentukan standar yang benar atau yang didukung oleh penalaran yang baik, dan dengan demikian etika mencoba mencapai kesimpulan tentang moral yang benar benar dan salah, dan moral yang baik dan jahat.

Pengertian Etika Bisnis
Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis. Etika bisnis merupakan studi standar formal dan bagaimana standar itu diterapkan ke dalam system dan organisasi yang digunakan masyarakat modern untuk memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa dan diterapkan kepada orang-orang yang ada di dalam organisasi.
Etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan juga masyarakat. Etika bisnis lebih luas dari ketentuan yang diatur oleh hukum, bahkan merupakan standar yang lebih tinggi dibandingkan standar minimal ketentuan hukum, karena dalam kegiatan bisnis seringkali kita temukan wilayah abu-abu yang tidak diatur oleh ketentuan hukum.
Von der Embse dan R.A. Wagley dalam artikelnya di Advance Managemen Jouurnal (1988), memberikan tiga pendekatan dasar dalam merumuskan tingkah laku etika bisnis, yaitu :
• Utilitarian Approach : setiap tindakan harus didasarkan pada konsekuensinya. Oleh karena itu, dalam bertindak seseorang seharusnya mengikuti cara-cara yang dapat memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat, dengan cara yang tidak membahayakan dan dengan biaya serendah-rendahnya.
• Individual Rights Approach : setiap orang dalam tindakan dan kelakuannya memiliki hak dasar yang harus dihormati. Namun tindakan ataupun tingkah laku tersebut harus dihindari apabila diperkirakan akan menyebabkan terjadi benturan dengan hak orang lain.
• Justice Approach : para pembuat keputusan mempunyai kedudukan yang sama, dan bertindak adil dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan baik secara perseorangan ataupun secara kelompok.
Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. Haruslah diyakini bahwa pada dasarnya praktek etika bisnis akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang, karena :
• Mampu mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi, baik intern perusahaan maupun dengan eksternal.
• Mampu meningkatkan motivasi pekerja.
• Melindungi prinsip kebebasan berniaga
• Mampu meningkatkan keunggulan bersaing.
Tidak bisa dipungkiri, tindakan yang tidak etis yang dilakukan oleh perusahaan akan memancing tindakan balasan dari konsumen dan masyarakat dan akan sangat kontra produktif, misalnya melalui gerakan pemboikotan, larangan beredar, larangan beroperasi dan lain sebagainya. Hal ini akan dapat menurunkan nilai penjualan maupun nilai perusahaan.
Sedangkan perusahaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika bisnis, pada umumnya termasuk perusahaan yang memiliki peringkat kepuasan bekerja yang tinggi pula, terutama apabila perusahaan tidak mentolerir tindakan yang tidak etis, misalnya diskriminasi dalam sistem remunerasi atau jenjang karier.
Perlu dipahami, karyawan yang berkualitas adalah aset yang paling berharga bagi perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus semaksimal mungkin harus mempertahankan karyawannya.
Untuk memudahkan penerapan etika perusahaan dalam kegiatan sehari-hari maka nilai-nilai yang terkandung dalam etika bisnis harus dituangkan kedalam manajemen korporasi yakni dengan cara :
• Menuangkan etika bisnis dalam suatu kode etik (code of conduct)
• Memperkuat sistem pengawasan
• Menyelenggarakan pelatihan (training) untuk karyawan secara terus menerus.

Penerapan Etika pada Organisasi Perusahaan
Dapatkan pengertian moral seperti tanggung jawab, perbuatan yang salah dan kewajiban
diterapkan terhadap kelompok seperti perusahaan, ataukah pada orang (individu) sebagai perilaku moral yang nyata?
Ada dua pandangan yang muncul atas masalah ini :
Ekstrem pertama, adalah pandangan yang berpendapat bahwa, karena aturan yang mengikat, organisasi memperbolehkan kita untuk mengatakan bahwa perusahaan bertindak seperti individu dan memiliki tujuan yang disengaja atas apa yang mereka lakukan, kita dapat mengatakan mereka bertanggung jawab secara moral untuk tindakan mereka dan bahwa tindakan mereka adalah bermoral atau tidak bermoral dalam pengertian yang sama yang dilakukan manusia.
Ekstrem kedua, adalah pandangan filsuf yang berpendirian bahwa tidak masuk akal berpikir bahwa organisasi bisnis secara moral bertanggung jawab karena ia gagal mengikuti standar moral atau mengatakan bahwa organisasi memiliki kewajiban moral. Organisasi bisnis sama seperti mesin yang anggotanya harus secara membabi buta mentaati peraturan formal yang tidak ada kaitannya dengan moralitas. Akibatnya, lebih tidak masuk akal untuk menganggap organisasi bertanggung jawab secara moral karena ia gagal mengikuti standar moral daripada mengkritik organisasi seperti mesin yang gagal
bertindak secara moral.
Karena itu, tindakan perusahaan berasal dari pilihan dan tindakan individu manusia, indivdu-individulah yang harus dipandang sebagai penjaga utama kewajiban moral dan tanggung jawab moral : individu manusia bertanggung jawab atas apa yang dilakukan perusahaan karena tindakan perusahaan secara keseluruhan mengalir dari pilihan dan perilaku mereka. Jika perusahaan bertindak keliru, kekeliruan itu disebabkan oleh pilihan tindakan yang dilakukan oleh individu dalam perusahaan itu, jika perusahaan bertindak secara moral, hal itu disebabkan oleh pilihan individu dalam perusahaan bertindak secara bermoral.

Globalisasi, Perusahaan Multinasional dan Etika Bisnis
Globalisasi adalah proses yang meliputi seluruh dunia dan menyebabkan system ekonomi serta sosial negara-negara menjadi terhubung bersama, termasuk didalamnya barangbarang, jasa, modal, pengetahuan, dan peninggalan budaya yang diperdagangkan dan saling berpindah dari satu negara ke negara lain. Proses ini mempunyai beberapa komponen, termasuk didalamnya penurunan rintangan perdagangan dan munculnya pasar terbuka dunia, kreasi komunikasi global dan system transportasi seperti internet dan pelayaran global, perkembangan organisasi perdagangan dunia (WTO), bank dunia, IMF, dan lain sebagainya.
Perusahaan multinasional adalah inti dari proses globalisasi dan bertanggung jawab dalam transaksi internasional yang terjadi dewasa ini. Perusahaan multinasional adalah perusahaan yang bergerak di bidang yang menghasilkan pemasaran, jasa atau operasi administrasi di beberapa negara. Perusahaan multinasional adalah perusahaan yang melakukan kegiatan produksi, pemasaran, jasa dan beroperasi di banyak negara yang berbeda.
Karena perusahaan multinasional ini beroperasi di banyak negara dengan ragam budaya dan standar yang berbeda, banyak klaim yang menyatakan bahwa beberapa perusahaan melanggar norma dan standar yang seharusnya tidak mereka lakukan.

Etika Bisnis dan Perbedaan Budaya
Relativisme etis adalah teori bahwa, karena masyarakat yang berbeda memiliki keyakinan etis yang berbeda. Apakah tindakan secara moral benar atau salah, tergantung kepada pandangan masyarakat itu. Dengan kata lain, relativisme moral adalah pandangan bahwa tidak ada standar etis yang secara absolute benar dan yang diterapkan atau harus diterapkan terhadap perusahaan atau orang dari semua masyarakat. Dalam penalaran moral seseorang, dia harus selalu mengikuti standar moral yang berlaku dalam masyarakat manapun dimana dia berada.
Pandangan lain dari kritikus relativisme etis yang berpendapat, bahwa ada standar moral tertentu yang harus diterima oleh anggota masyarakat manapun jika masyarakat itu akan terus berlangsung dan jika anggotanya ingin berinteraksi secara efektif. Relativisme etis mengingatkan kita bahwa masyarakat yang berbeda memiliki keyakinan moral yang berbeda, dan kita hendaknya tidak secara sederhana mengabaikan keyakinan moral kebudayaan lain ketika mereka tidak sesuai dengan standar moral kita.

Teknologi dan Etika Bisnis
Teknologi yang berkembang di akhir dekade abad ke-20 mentransformasi masyarakat dan bisnis, dan menciptakan potensi problem etis baru. Yang paling mencolok adalah revolusi dalam bioteknologi dan teknologi informasi. Teknologi menyebabkan beberapa perubahan radikal, seperti globalisasi yang berkembang pesat dan hilangnya jarak, kemampuan menemukan bentuk-bentuk kehidupan baru yang keuntungan dan resikonya tidak terprediksi. Dengan perubahan cepat ini, organisasi bisnis berhadapan dengan setumpuk persoalan etis baru yang menarik.

Sumber :

http://entrepreneur.gunadarma.ac.id/e-learning/materi/1-artikel/40-etika-bisnis.html
http://www.anneahira.com/artikel-umum/etika-bisnis.htm
Readmore »

Selasa, 18 Mei 2010

tugas membuat tulisan....

Tugas membuat tulisan,,
Beberapa Ciri Bahasa Indonesia Baku
Karena wilayah pemakaiannya yang amat luas dan penuturnya yang beragam, bahasa Indonesia pun mempunyai banyak ragam. Berbagai ragam bahasa itu tetap disebut sebagai bahasa Indonesia karena semua ragam tersebut memiliki beberapa kesamaan ciri. Ciri dan kaidah tata bunyi, pembentukan kata, dan tata makna pada umumnya sama. Itulah sebabnya kita dapat saling memahami orang lain yang berbahasa Indonesia dengan ragam berbeda walaupun kita melihat ada perbedaan perwujudan bahasa Indonesianya.
Di samping ragam yang berdasar wilayah penuturnya, ada beberapa ragam lain dengan dasar yang berbeda, dengan demikian kita mengenal bermacam ragam bahasa Indonesia (ragam formal, tulis, lisan, bidang, dan sebagainya); selain itu ada pula ragam bidang yang lazim disebut sebagai laras bahasa. Yang menjadi pusat perhatian kita dalam menulis di media masa adalah “bahasa Indonesia ragam baku”, atau disingkat “bahasa Indonesia baku”. Namun demikian, tidaklah sederhana memerikan apa yang disebut “ragam baku”
Bahasa Indonesia ragam baku dapat dikenali dari beberapa sifatnya. Seperti halnya dengan bahasa-bahasa lain di dunia, bahasa Indonesia menggunakan bahasa orang yang berpendidikan sebagai tolok ukurnya. Ragam ini digunakan sebagai tolok ukur karena kaidah-kaidahnya paling lengkap diperikan. Pengembangan ragam bahasa baku memiliki tiga ciri atau arah, yaitu:
1. Memiliki kemantapan dinamis yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Di sini, baku atau standar berarti tidak dapat berubah setiap saat.
2. Bersifat kecendikiaan. Sifat ini diwujudkan dalam paragraf, kalimat, dan satuan-satuan bahasa lain yang mengungkapkan penalaran dan pemikiran yang teratur, logis dan masuk akal
3. Keseragaman. Di sini istilah “baku” dimaknai sebagai memiliki kaidah yang seragam. Proses penyeragam bertujuan menyeragamkan kaidah, bukan menyeragamkan ragam bahasa, laras bahasa, atau variasi bahasa.
Pemerintah, melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Depdiknas) menghimpun ciri-ciri kaidah bahasa Indonesia baku dalam buku berjudul Tata Bahasa Baku bahasa Indonesia, di samping Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Dalam kedua naskah tersebut terdapat banyak kaidah yang merupakan pewujudan ciri bahasa Indonesia baku.
Mengapa Harus Baku?
Banyak orang kurang menyetujui pemakaian bahasa “baku” karena mereka kurang memahami makna istilah itu. Mereka mengira bahasa yang baku selalu bersifat kaku, tidak lazim digunakan sehari-hari, atau bahasa yang hanya terdapat di buku. Mereka berpendirian bahwa kita cukup menggunakan bahasa yang komunikatif, maksudnya mudah dipahami. Mereka beranggapan bahwa penggunaan ragam baku mengakibatkan bahasa yang kurang komunikatif dan sulit dipahami. Pemahaman semacam ini harus diluruskan. Keterpautan bahasa baku dengan materi di media massa ialah bahwa ragam ini yang paling tepat digunakan supaya bahasa Indonesia berkembang dan dapat menjadi bahasa iptek, bahasa sosial, atau pun bahasa pergaulan yang moderen. Bahasa yang baku tidak akan menimbulkan ketaksaan pada pemahaman pembacanya. Ragam bahasa baku akan menuntun pembacanya ke arah cara berpikir yang bernalar, jernih, dan masuk akal. Bahasa Inggris, dan bahasa-bahasa lain di Eropa, bisa menjadi bahasa dunia dan bahasa komunikasi dalam ilmu pengetahuan karena tingginya sifat kebakuan bahasa-bahasa tersebut.
Di samping itu, bahasa baku dapat menuntun baik pembaca maupun penulisnya ke arah penggunaan bahasa yang efisien dan efektif. Bahasa yg efisien ialah bahasa yg mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku dengan mempertimbangkan kehematan kata dan ungkapan. Bahasa yang efektif ialah bahasa yang mencapai sasaran yang dimaksudkan (Moeliono, 2002).
Ada beberapa ciri yang dapat digunakan untuk mempertimbangkan kebakuan kalimat, antara lain:
1. Pelesapan imbuhan, misalnya “Kita harus hati-hati dalam menentukan sample penelitian ini” (seharusnya “berhati-hati”).
2. Pemborosan kata yang menyebabkan kerancuan atau bahkan kesalahan struktur kalimat, misalnya “Dalam rapat pimpinan kemarin memutuskan susunan pengurus baru” (kata dalam dapat dibuang).
3. Penggunaan kata yang tidak baku, termasuk penggunaan kosakata bahasa daerah yang belum dibakukan. Contoh, “Percobaan yang dilakukan cuma menemukan sedikit temuan” (Cuma diganti hanya).
4. Penggunaan kata hubung yang tidak tepat, termasuk konjungsi ganda, misalnya ”Meskipun beberapa ruang sedang diperbaiki, tetapi kegiatan sekolah berjalan terus.” (konjungsi tetapi sebaiknya dihilangkan karena sudah ada konjungsi meskipun).
5. Kesalahan ejaan, termasuk penggunaan tanda baca.
6. Pelesapan salah satu unsur kalimat, misalnya ”Setelah dibahas secara mendalam, peserta rapat menerima usul tersebut” (subjek anak kalimat ‘usul tersebut’ tidak boleh dilesapkan).
Buku Sabarianto (2001) dalam daftar pustaka di bawah memuat beberapa contoh tentang penggunaan bahasa Indonesia baku.
Pustaka Pilihan
1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Perum Balai Pustaka
2. Moeliono, Anton M. 2002. “Bahasa yang Efisien dan Efektif dalam Bidang Iptek”, makalah lepas.
3. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1979. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta: Balai Pustaka
Readmore »

tugas membuat tulisan ....

Membuat TULISAN
BAGAIMANAKAH PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA SAAT INI??

1. Bagaimana situasi kebahasaan Indonesia saat ini? Bahasa Indonesia saat ini mulai semakin ditinggalkan. kemakah perginya bahsa itu sekarang? Bhasa yang selalu diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Orang rata-rata sekarang menggunakan bahasa campuran dalam pergaulan maupun dalam berbagai situasi. Padahal itu adalah orang Indonesia. Hingga saat ini masih sedikit orang yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan EYD. Hanya beberapa 2% dari seluruh orang Indonesia yang menggunakan bahasa Indoenesia secara baik dan benar.

2. Rasa kebanggaan berbahasa Indonesia? Rasa kebanggaan otang untuk berbahasa Indonesia semakin lama juga akan emakin memudar. Karena orang-orang semakin melupakan bahasa Indonesia sendiri dan sekarang semakin banyak orang-orang yang belajar bahasa asing. Sebaliknya orang-orang asing semakin banyak yang ingin mempelajari bahasa Indonesia.

Jika ingin melihat perkembangan bahasa Indonesia saat ini kita harus kilas balik melihat embrio dari bahasa Indonesia yaitu bahasa Melayu Kuno dan bahasa Sanskerta. Bahasa Melayu Kuno dan bahasa Sanskerta digunakan untuk komunikasi oleh kerajaan-kerajaan besar di Indonesia pada jaman dahulu kala seperti Majapahit, Sriwijaya, Kutai, dan lain-lain. Kemudian pada saat para penjajah datang yaitu pemerintah kolonial Inggris dan Belanda mereka saling berebut kekuasaan untuk menjajah Indonesia, kemudian kedua negara penjajah tersebut mengadakan kesepakatan dengan dikeluarkannya Traktat London pada tahun 1824. Salah satu tujuan dikeluarkannya traktat tersebut adalah untuk keperluan perkembangan bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia. Setelah traktat atau perjanjian tersebut berlangsung, bahasa Melayu dibagi menjadi empat arah yaitu :
1. Di Indonesia menjadi bahasa Indonesia.
2. Di Malaysia menjadi bahasa Malaysia.
3. Di Brunei Darussalam menjadi bahasa Melayu Baku.
4. Di Singapura menjadi bahasa Nasional.
Dari empat arah tersebut yang memiliki keunikan adalah bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia memiliki lafal dan aksen yang berbeda.

Seiring dengan perkembangan semangat juang bangsa Indonesia, pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia mengikrarkan sumpah pemuda. Sejak saat itu Bahasa Indonesia mulai berkembang lagi bagaikan jamur di musim hujan, dimulai dari ejaan lama hingga ejaan baru seperti yang kita gunakan sekarang ini. Berikut ini adalah perbandingan ejaan lama dengan ejaan baru, huruf ‘j’ ditulis ‘dj’, huruf ‘u’ ditulis ‘oe’, dan masih banyak lagi perbandingan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Sampai saat ini bahasa nasional Indonesia memang hanya ada satu, tetapi bahasa di Indonesia banyak sekali hingga ratusan jumlahnya karena setiap suku dari Sabang sampai Merauke memiliki bahasa yang berbeda. Bahkan setiap bahasa memiliki tingkatan lagi seperti halus, sedang, dan kasar ( bahasa Jawa dan Sunda contohnya).
Tetapi sayang sekali saat ini Bahasa Indonesia tumbuh tanpa arah yang jelas. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan bahasa Indonesia melalui siaran baik radio maupun televisi. Memang untuk mewujudkan Bahasa Siaran yang standar atau baku seperti mengharapkan hujan tanpa awan, karena kemajemukan bangsa Indonesia dan keberagaman dialek Nusantara. Padahal sudah ada sederet undang-undang dan pasal yang mengatur tentang bahasa penyiaran seperti Undang-Undang no. 32 tahun 2002, tentang Penyiaran pasal 37 menyatakan bahwa Bahasa Pengantar Utama dalam penyelenggaraan program siaran harus Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pasal 38 menyatakan bahwa Bahasa Daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam penyelenggaraan program siaran muatan lokal dan apabila diperlukan untuk mendukung mata acara tertentu. Bahasa asing hanya dapat digunakan sebagai bahasa pengantar sesuai dengan keperluan suatu mata acara siaran. Pasal 39 menyatakan bahwa mata acara siaran bahasa asing dapat disiarkan dalam bahasa aslinya dan khusus untuk jasa penyiaran televisi harus diberi teks Bahasa Indonesia atau secara selektif disulihsuarakan ke dalam Bahasa Indonesia sesuai dengan keperluan mata acara tertentu.
Tak dinyana Undang-Undang tersebut hanya menjadi aturan belaka, karena memang pada kenyataannya menetapkan seluruh acara di televisi dan radio menggunakan bahasa yang baku memang sulit sekali karena sasaran dan kepentingan yang berbeda.
Ada segelintir masyarakat yang beranggapan bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling miskin di dunia, hal tersebut dikarenakan banyak kata-kata di dalam Bahasa Indonesia yang mengadopsi dari bahasa asing, seperti kata ‘mubazir’ yang berasal dari Bahasa Arab, kata ‘isolasi’ dari Bahasa Inggris, dan masih bayak lagi kata adopsi lainnya.
Tetapi kita sebagai Bangsa Indonesia yang besar dan memiliki bahasa sendiri harus bangga terhadap Bahasa Indonesia, karena Bahasa Indonesia adalah bahasa milik Indonesia sendiri, bukan milik negara lain. Jangan sampai Bahasa Indonesia di-claim oleh negara lain.
Demikian perkembangan Bahasa Indonesia yang saya tulis, mohan maaf jika ada kata dan bahasa yang kurang berkenan.
PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR

Sebelum sampai pada pembahasan Bahasa Indonesia yang benar dan baik, terlebih dahulu kita perlu tahu bagaimana standar resmi pembakuan Bahasa Indonesia. Jika bahasa sudah memiliki baku atau standar yang sudah disepakati dan diresmikan oleh negara atau pemerintah, barulah dapat dibedakan antara pemakaian bahasa yang benar dan tidak.
Seperti yang ditulis di buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Depdiknas) tahun 1988, pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku itulah yang merupakan bahasa yang benar atau betul.
Bahasa sebagai salah satu sarana komunikasi antar sesama manusia tentunya bertujuan agar dapat dimengerti oleh manusia lainnya. Meskipun berbicara dalam satu bahasa yang sama, dalam hal ini Bahasa Indonesia, namun ragam bahasa yang dipakai tidaklah sama. Masing-masing kelompok menggunakan ragam yang berbeda.
“Orang yang mahir menggunakan bahasanya sehingga maksud hatinya mencapai sasarannya, apa pun jenisnya itu, dianggap berbahasa dengan efektif. Pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut bahasa yang baik atau tepat. Bahasa yang harus mengenai sasarannya tidak selalu perlu bergam baku” (Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988, halaman 19).
Jadi jika kita berbahasa benar belum tentu baik untuk mencapai sasarannya, begitu juga sebaliknya, jika kita berbahasa baik belum tentu harus benar, kata benar dalam hal ini mengacu kepada bahasa baku. Contohnya jika kita melarang seorang anak kecil naik ke atas meja, “Hayo adek, nggak boleh naik meja, nanti jatuh!” Akan terdengar lucu jika kita menggunakan bahasa baku, “Adik tidak boleh naik ke atas meja, karena nanti engkau bisa jatuh!”
Untuk itu ada baiknya kita tetap harus selalu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, yang berarti “pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan yang di samping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebaliknya mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran” (Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988, halaman 20).
Kalo kita cermati kutipan-kutipan di atas tentang apa itu bahasa Indonesia yang baik dan benar, erat sekali ya hubungannya dengan ragam bahasa. Berarti untuk lebih memahaminya kita juga perlu tahu apa saja ragam bahasa yang ada di dalam bahasa Indonesia. Sepertinya perlu pembahasan tersendiri mengenai hal itu. Jadi yang penting dalam masalah “yang baik dan benar” kali ini adalah kita tetap berbahasa sesuai keadaan, situasi, dengan siapa kita berbicara, dan untuk tujuan apa kita berbahasa.
Indonesia terdiri dari berbagai kepulauan, sehingga tak heran bila bangsa Indonesia memiliki beragam suku bangsa dan bahasa daerah. Namun agar setiap individu dapat mengerti atau berkomunikasi dengan baik dan jelas, maka disepakati satu bahasa persatuan yakni “ Bahasa Indonesia”. Yang berbasis Melayu. Bahasa adalah alt komunikasi untuk melakukan interaksi sosial individu yang satu dengan yang lainnya. Kemampuan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan syrat penting bagi kita, khusunya bagi generasi muda untuk mewujudkan sebuah bangsa yang besar dan kokoh. Menyadari betapa pentingnya kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, kita hendaknya memacu diridan berupaya mempelajarinya secara sungguh-sungguh. Seringkali kita mendengar perbincangan orang dewasa ataupun remaja dengan menggunakan bahasa tampak terdengar janggal walaupun dapat dipahami oleh orang yang mendengarnya. Dikatakan janggal karena bahasa yang digunakan bercampur dengan bahasa daerah, atau bahasa yang tidak baku.
Bebahasa Indonesia dengan baik dan benar dapat mengangkat citra dan martabat bangsa dan juga menjadi bukti kecintaan terhadap bangsa dan tanah air tercinta.
Agar dapat menggunakan bahasa Indonesia secara baik, kita perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Isi atau makna, yaitu yang berhubungan dengan pikiran, gagasan atau perasaan yang disampaikan.
2. Keadaan pemakaian bahasa, yaitu yang berhubungan dengan suasana, tempat, atau waktu bahasa.
3. Khalayak/sasaran, yaitu yang bekenaan dengan usia, kelamin, pendidikan, pekerjaan dan kedudukan.
4. Sarana saluran yang digunakan, umpamanya melalui telepon, radio, televisi, percakapan bersemiuka, atau karangam
5. Cara berhubungan langsung atau tidak langsung, misalnya melalui forum rapat,televisi, radio dan surat.

Sumber : Buku PEDOMAN GERAKAN DISIPLIN NASIONAL



BAHASA INDONESIA BAKU
PEMAKAIANNYA DENGAN BAIK
DAN BENAR

istilah bahasa baku telah dikenal oleh masyarakat secara luas. Namun pengenalan istilah tidak menjamin bahwa mereka memahami secara komprehensif konsep dan makna istilah bahasa baku itu. Hal ini terbukti bahwa masih banyak orang atau masyarakat berpendapat bahasa baku
sama dengan bahasa yang baik dan benar. “Kita berusaha agar dalam situasi resmi kita harus berbahasa yang baku. Begitu juga dalam situasi yang tidak resmi kita berusaha menggunakan bahasa yang baku”. (Pateda, 1997 : 30).

Slogan “pergunakanlah bahasa Indonesia dengan baik dan benar”, tampaknya mudah diucapkan, namun maknanya tidak jelas. Slogan itu hanyalah suatu retorika yang tidak berwujud nyata, sebab masih diartikan bahwa di segala tempat kita harus menggunakan bahasa baku. Demikian juga, masih ada cibiran bahwa bahasa baku itu hanya buatan pemerintah agar bangsa ini dapat diseragamkan dalam bertindak atau berbahasa. “Manakah ada bahasa baku, khususnya bahasa Indonesia baku? “Manalah ada bahasa Indonesia lisan baku”? “Manalah ada masyarakat atau orang yang mampu menggunakan bahasa baku itu, sebab mereka berasal dari
daerah”. Atau mereka masih selalu dipengaruhi oleh bahasa daerahnya jika mereka berbahasa Indonesia secara lisan. Dengan gambaran kondisi yang demikian itu, di dalam bab ini dibahas
tentang pengertian bahasa baku, pengertian bahasa nonbaku, pengertian bahasa Indonesia baku, fungsi pemakaian bahasa baku dan bahasa nonbaku. Terakhir dibahas tentang ciri-ciri bahasa baku dan bahasa nonbaku, serta berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Readmore »

Opini Bahasa Dalam Konsep Ilmiah Tugas 5 ( lima )

Nama : Nur Anisa Eka Utami
Npm : 10207810
Kelas : 3Ea01
Mata.K : B.Indonesia 2 (softskill)
Opini Bahasa Dalam Konsep Ilmiah
Tugas 5 ( lima )
Peranan B.Indonesia dalam Konsep Ilmiah
Bahasa adalah kunci untuk membuka khasanah pengetahuan. Hanya dengan bahasalah kita dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Walaupun bahasa Indonesia sudah berperan sebagai alat persatuan tetapi belum dapat berperan sebagai pengantar ilmu pengetahuan. Hal tersebut mengharuskan kita menerjemahkan semua buku ilmu pengetahuan di dunia ini ke dalam bahasa Indonesia. Dengan adanya informasi ilmiah dalam bahasa Indonesia itu, pasti akan ada kemajuan pesat di bidang ilmu pengetahuan yang berarti meningkatkan mutu bahasa indonesia sebagai bahasa ilmiah.
Penulisan ilmiah yaitu suatu karangan ilmiah menurut Brotowijoyo dalam Arifin adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis
menurut metodologi penulisan yang baik dan benar.
Jenis-jenis karya ilmiah dapat dibedakan atas berikut.
a. Makalah
Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan permasalahan dan
pembahasannya berdasarkan data di lapangan atau kepustakaan yang
bersifat empiris dan objektif.
b. Kertas kerja
Kertas kerja adalah karya tulis ilmiah yang bersifat lebih mendalam
daripada makalah dengan menyajikan data di lapangan atau
kepustakaan yang bersifat empiris dan objektif. Makalah sering ditulis
untuk disajikan dalam kegiatan penelitian dan tidak untuk
didiskusikan, sedangkan kertas kerja ditulis untuk disajikan dalam
seminar atau lokakarya
c. Laporan Praktik Kerja
Laporan praktik kerja adalah karya tulis ilmiah yang memaparkan
data hasil temuan di lapangan atau instansi perusahaan tempat kita
bekerja. Jenis karya ilmiah ini merupakan karya ilmiah untuk jenjang
diploma III (DIII)
d. Skripsi
Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat
penulis berdasarkan pendapat orang lain (karya ilmiah S I). Karya
ilmiah ini ditulis untuk meraih gelar sarjana
langsung (observasi lapangan)
skripsi
tidak langsung (studi kepustakaan)
e. Tesis
Tesis adalah karya tulis ilmiah yang mengungkapkan pengetahuan
baru dengan melakukan pengujian terhadap suatu hipotesis. Tesis ini
sifatnya lebih mendalam dari skripsi (karya ilmiah S II). Karya ilmiah
ini ditulis untuk meraih gelar magister.
f. Disertasi
Disertasi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan teori atau
dalil baru yang dapat dibuktikan berdasarkan fakta secara empiris dan
objektif (karya ilmiah S III). Karya ilmiah ini ditulis untuk meraih
gelar doktor.
Perbedaan antara makalah, kertas kerja dengan skripsi, tesis, dan disertasi
dapat dilihat dari hal-hal berikut:
(1) kegunaannya,
(2) tebal halaman,
(3) waktu pengerjaan, dan
(4) gelar akademik.
Manfaat penyusunan karya ilmiah bagi penulis adalah berikut:
1. Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif;
2. Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber;
3. Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan;
4. Meningkatkan pengorganisasian fakta/data secara jelas dan sistematis;
5. Memperoleh kepuasan intelektual;
6. Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan.
Tujuh sikap ilmiah bagi penulis adalah sebagai berikut:
a. sikap ingin tahu bertanya mengapa, apa, dan bagaimana;
b. sikap kritis mencari informasi sebanyak mungkin;
c. sikap terbuka menerima pendapat orang lain;
d. sikap objektif menyatakan apa adanya;
e. sikap menghargai orang lain mengutip karangan orang
lain dengan mencantumkan nama pengarang;
f. sikap berani mempertahankan hasil penelitian;
g. sikap futuristik mengembangkan ilmu pengetahuan lebih
jauh.3
KARAKTERISTIK KARYA ILMIAH
1. Mengacu kepada teori
Artinya karangan ilmiah wajib memiliki teori yang dijadikan sebagai
landasan berpikir / kerangka pemikiran / acuan dalam pembahasan
masalah.
Fungsi teori :
a. Tolak ukur pembahasan dan penjawaban persoalan
b. Dijadikan data sekunder / data penunjang ( data utama ; fakta )
c. Digunakan untuk menjelaskan, menerangkan, mengekspos dan
mendeskripsikan suatu gejala
d. Digunakan untuk mendukung dan memperkuat pendapat penulis.
2. Berdasarkan fakta
Artinya setiap informasi dalam kerangka ilmiah selalu apa adanya,
sebenarnya dan konkret.
3. Logis
Artinya setiap keterangna dalam kerangka ilmiah selalu dapat
ditelusuri, diselidiki dan diusut alasan-alasannya, rasional dan dapat
diterima akal.
4. Objektif
Artinya dalam kerangka ilmiah semua keterangan yang diungkapkan
tidak pernah subjektif, senantiasa faktual dan apa adanya, serta tidak
diintervensi oleh kepentingan baik pribadi maupun golongan.
5. Sistematis
Baik penulisan / penyajian maupun pembahasan dalam karangan
ilmiah disajikan secara rutin, teratur, kronologis, sesuai dengan
prosedur dan sistem yang berlaku, terurut, dan tertib.
6. Sahih / Valid
Artinya baik bentuk maupun isi karangan ilmiah sudah sah dan benar
menurut aturan ilmiah yang berlaku.
7. Jelas
Artinya setiap informasi dalam karangan ilmiah diungkapkan
sejernih-jernihnya, gamblang, dan sejelas-jelasnya sehingga tidak
menimbulkan pertanyaan dan keraguan-raguan dalam benak
pembaca.
8. Seksama
Baik penyajian maupun pembahasan dalam karangan ilmiah
dilakukan secara cermat, teliti, dan penuh kehati-hatian agar tidak
mengandung kesalahan betapa pun kecilnya.
9. Tuntas
Pembahasan dalam karangan ilmiah harus sampai ke akar-akarnya.
Jadi, supaya karangan tuntas, pokok masalah harus dibatasi tidak
boleh terlalu luas.
10. Bahasanya Baku
Bahasa dalam kerangka ilmiah harus baku artinya harus sesuai
dengan bahasa yamg dijadikan tolak ukur / standar bagi betu l
tidaknya penggunaan bahasa.
11. Penulisan sesuai dengan aturan standar (nasional / internasional)
Akan tetapi, tata cara penulisan laporan penelitian yang berlaku di
lembaga tempat penulis bernaung tetap harus diperhatikan.
PERSYARATAN MENULIS ILMIAH
1. Menguasi teori ;
2. Memiliki pengalaman
3. Bersifat terbuka
4. Bersifat objektif
5. Memiliki kemampuan berbahasa
Sumber :
http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/06/agus_buku_ajar.pdf.
http://www.iphin-kool.co.cc/2009/04/peran-dan-fungsi-bahasa-indonesia-dalam.html

Dalam menyusun kalimat memang penting memerlukan suatu konsep jadi menurut saya bahasa dalam konsep ilmiah adalah penting sekali karena Bahasa dipakai sebagai alat mengungkap gagasan dan pikiran. Dengan begitu bahasa adalah alat komunikasi sekaligus alat untuk memahami isi dari komunikasi itu sendiri. Komunikasi antar-orang, termasuk komunikasi ilmuwan terhadap fenomena alam dan fenomena kebudayaan.
Kita sebagai manusia menggunakan bahasa sesuai dengan yang kita ketahui dan yang dirasakan guna menyampaikan gagasan atau menerima gagasan, pemberitahuan, keluh-kesah, pernyataan menghormat, bersahabat, atau pernyataan permusuhan dari orang lain. Siapa dia berkomunikasi dengan siapa, tentang hal apa, di mana, untuk tujuan apa dengan cara bagaimana. Dengan demikian, cara orang mengekspresikan gagasan terkait dengan masalah-masalah di luarnya seperti kesadaran atas status sosial dan tradisi yang berlaku dan diberlakukan.
Dan Walaupun bahasa Indonesia sudah berperan sebagai alat persatuan tetapi belum dapat berperan sebagai pengantar ilmu pengetahuan. Hal ini mengharuskan kita menerjemahkan semua buku ilmu pengetahuan di dunia ini ke dalam bahasa Indonesia. Dengan adanya informasi ilmiah dalam bahasa Indonesia itu, pasti akan ada kemajuan pesat di bidang ilmu pengetahuan yang berarti meningkatkan mutu bahasa indonesia sebagai bahasa ilmiah, maka itu bahasa Indonesia dalam konsep ilimah sangat lah penting.
Perbedaan antara Penulisan Ilmiah, Skripsi, Tesis, dan Disertasi dapat dilihat dari hal-hal berikut:
(1) kegunaannya,
(2) tebal halaman,
(3) waktu pengerjaan, dan
(4) gelar akademik.
Karangan Ilmiah yang ditulis tidak secara ilmiah seperti :
- Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan permasalahan dan pembahasannya berdasarkan data di lapangan atau kepustakaan yang bersifat empiris dan objektif.
- Paper
- Modul adalah makalah yang cuma sepintas.
- Opini
- Diktat adalah makalah yang tetap seperti buku.
- Editorial
Karangan Non Ilmiah yang ditulis secara ilmiah seperti :
1. Biografi
2. Otografi
Karangan Non Ilmiah yang ditulis tidak secara ilmiah seperti :
1. Novel
2. Cerpen
3. Buku Cerita yang judul buku dan isi buku tersebut berbeda (tidak nyambung)
Macam karangan menurut subjeknya :
1. Karangan ilmu pengetahuan alam kodrat
2. Karangan kesastraan dan ilmu pengetahuan humaniora
3. Karangan lain-lain.
Macam karangan menurut sifatnya :
1. Karangan Ilmiah
2. Karangan Non Ilmiah
3. Karangan Tidak Ilmiah
Manfaat penyusunan karya ilmiah bagi penulis adalah berikut:
1. Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif;
2. Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber;
3. Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan;
4. Meningkatkan pengorganisasian fakta/data secara jelas dan sistematis;
5. Memperoleh kepuasan intelektual;
6. Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan
Tujuh sikap ilmiah bagi penulis adalah sebagai berikut:
1. sikap ingin tahu : bertanya mengapa, apa, dan bagaimana.
2. sikap kritis : mencari informasi sebanyak mungkin.
3. sikap terbuka :menerima pendapat orang lain.
4. sikap objektif : menyatakan apa adanya.
5. sikap menghargai orang lain : mengutip karangan orang lain dengan mencantumkan nama pengarang.
6. sikap berani : mempertahankan hasil penelitian.
7. sikap futuristik : mengembangkan ilmu pengetahuan lebih jauh.
Delapan karakteristik dari karya ilmiah adalah sebagai berikut :
- Mengacu kepada teori.
Artinya karangan ilmiah wajib memiliki teori yang dijadikan sebagai landasan berpikir atau kerangka pemikiran atau acuan dalam pembahasan masalah.
Fungsi teori :
• Tolak ukur pembahasan dan penjawaban persoalan.
• Dijadikan data sekunder atau data penunjang ( data utama ; fakta ).
• Digunakan untuk menjelaskan, menerangkan, mengekspos dan mendeskripsikan suatu gejala.
• Digunakan untuk mendukung dan memperkuat pendapat penulis.
- Berdasarkan Fakta
Artinya setiap informasi dalam kerangka ilmiah selalu apa adanya, sebenarnya dan konkret.
- Objektif
Artinya dalam kerangka ilmiah semua keterangan yang diungkapkan tidak pernah subjektif, senantiasa faktual dan apa adanya, serta tidak diintervensi oleh kepentingan baik pribadi maupun golongan
- Sistematis
Baik penulisan atau penyajian maupun pembahasan dalam karangan ilmiah disajikan secara rutin, teratur, kronologis, sesuai dengan prosedur dan sistem yang berlaku, terurut, dan tertib.
- Logis
Artinya setiap keterangna dalam kerangka ilmiah selalu dapat ditelusuri, diselidiki dan diusut alasan-alasannya, rasional dan dapat diterima akal.
- Jelas
Artinya setiap informasi dalam karangan ilmiah diungkapkan sejernih-jernihnya, gamblang, dan sejelas-jelasnya sehingga tidak menimbulkan pertanyaan dan keraguan-raguan dalam benak pembaca.
- Bahasanya Baku
Bahasa dalam kerangka ilmiah harus baku artinya harus sesuai dengan bahasa yang dijadikan tolak ukur atau standar bagi betul tidaknya penggunaan bahasa.
- Penulisan sesuai dengan aturan standar (nasional / internasional)
Akan tetapi, tata cara penulisan laporan penelitian yang berlaku di
lembaga tempat penulis bernaung tetap harus diperhatikan.
Readmore »

Senin, 12 April 2010

tugas III Bahasa Indonesia 2 Soft SkiLL ( nur anisa eka utami 10207810 3EA01 )

1.Apa yang akan Anda simpulkan dengan mempergunakan data-data berikut :
a.Hasil tahun pertama Pelita I bagi Departemen PUTL adalah anggaran yang ditetapkan Rp 33.690.000.000,-. Sebelum habis tahun anggaran itu sudah habis dipakai, sebab itu departemen ini mendapatkan tambahan anggaran sebesar Rp 6.365.000.000,-
Jawab : Jadi, dapat disimpulkan bahwa Departemen PUTL selama satu tahun telah menghabiskan dana sebesar Rp 40.055.000,-.
b.Departemen P & K
Anggaran belanja yang ditetapkan Rp 5.500.000,-. Dalam bulan Pebruari 1970 baru digunakan Rp 2.500.000.000,-.
Jawab : Jadi, dapat disimpulkan bahwa Departemen P & K masih tersedia anggaran sebesar Rp 3.000.000,-.
c.Departemen Pertanian
Anggaran yang ditetapkan Rp 6.697.948.200,-
Terpakai Rp 6.675.415.470,-
d.Jawab : Jadi, dapat disimpulkan bahwa Departemen Pertanian masih tersedia anggaran sebesar Rp 22.532.730,-.

2.Jalan pikiran di bawah ini mempergunakan corak penalaran yang mana ? Benarkah proses penalaran itu ?
a.Untuk memahami seorang pemabuk, maka seorang penyelidik harus minum sampai mabuk.
Jawab : Jalan pikiran mempergunakan corak penalaran silogisme hipotesis dan proses penalaran tersebut tidak benar.
b.Pemerintah berkewajiban menjaga keselamatan jiwa raga bangsa Indonesa. Untuk menjaga keselamatan jiwa raga bangsa dan moral bangsa, pemerintah berhak mengadakan sensor terhadap film-film. Untuk itu pemerintah membentuk panitia sensor yang bertugas mensensor semua film. Sebab itu apa pun keputusan panitia, harus diterima oleh semua rakyat Indonesia.
Jawab : Jalan pikiran mempergunakan corak penalaran silogisme kategorial dan proses penalaran tersebut benar.
c.Mereka yang melakukan korupsi jutaan rupiah atas uang negara, diminta untuk menyelesaikan perkaranya di luar pengadilan. Orang-orang semacam itu biasanya orang yang berada dan berkedudukan tinggi. Mat Bagong ditangkap, dipukul dan ditahan berbulan-bulan karena memalsukan kuintansi pengobatan dengan selisih Rp 150,-. Ia akhirnya dijatuhi hukuman penjara tiga bulan. Sebab itu, lebih baik mengkorup uang jutaan rupiah daripada memalsukan kuintansi yang berjumlah
Rp 150,-.
Jawab : Jalan pikiran mempergunakan corak penalaran rantai deduksi dan proses penalaran tersebut tidak benar.

3.Tetapkan jenis silogisme berikut :
a.Tiap orang Indonesia termasuk pembayar pajak atau tidak. Ia adalah pembayar pajak. Sebab itu, ia tidak termasuk orang Indonesia yang tidak membayar pajak.
Jawab : Silogisme hipotesis
b.Seorang yang dikuasai kemarahan akan kehilangan akal sehatnya. Pak Sabar tidak pernah marah sesaat pun. Sebab itu, ia tidak pernah kehilangan akal sehatnya.
Jawab : Silogisme kategorial
c.Mereka yang dari lahir sudah kaya, tidak dapat membayangkan bagaimana menjadi orang miskin. Pak Karta adalah orang yang tidak kaya dari kelahiran. Sebab itu, ia dapat membayangkan betapa menjadi orang miskin.
Jawab : Silogisme alternatif
d.Semua yang masuk perguruan tnggi adalah mahasiswa. Bejo adalah seorang yang masuk perguruan tinggi. Sebab itu, Bejo adalah seorang mahasiswa.
Jawab : Silogisme kategorial

4.“ Karena semua pesawat Garuda yang saya tumpangi adalah pesawat yang bermesin yet, maka semua pesawat milik Garuda adalah pesawat bermesin yet “. Yang mana dari penalaran berikut paling mirip dengan penalaran di atas ? Jelaskan !
a.Karena semua mahasiswa yang telah saya jumpai adalah orang-orang yang cerdas, maka tampaknya hanya sedikit yang akan gagal dalam ujian.
Jawab : Tidak mirip
b.Semua bahasa di dunia yang pernah saya pelajari memiliki kata seru, kata seru ini merupakan unsur primitif dari bahasa yang berbentuk kalimat yang masih tertahan.
Jawab : Tidak mirip
c.Karena semua novel yang ditulisnya cenderung bernada seks, maka agaknya ia tertarik dengan masalah seks.
Jawab : Ya, karena keduanya saling berkaitan
d.Karena semua buruh di perusahaan itu rajin melaksanakan tugasnya, maka semuanya adalah buruh yang penuh tanggung jawab.
Jawab : Tidak mirip
e.Karena semua kapal yang pernah saya tumpangi memberikan pelayanan yang sangat memuaskan, maka semua kapal sangat memuaskan servisnya.
Jawab : Ya, karena keduanya saling berkaitan

5.Perluaslah entimem berikut menjadi sebuah silogisme !
a.Ia seorang warga negara yng baik, sebab setiap ada aksi-aksi sosial untuk kepentingan bangsa ia selalu ikut.
Jawab : Silogisme kategorial
Premis Mayor : Seorang warga yang baik adalah selalu ikut setiap ada
aksi-aksi sosial untuk kepentingan bangsa.
Premis Minor : Ia adalah seorang warga yang baik
Konklusi : Sebab itu, ia selalu ikut setiap ada aksi-aksi sosial untuk
kepentingan bangsa.
b.Ia pasti seorang ahli dalam bidang matematika, karena ia mengajar matematika di fakultas tersebut.
Jawab : Silogisme kategorial
Premis Mayor : Siapa saja yang ahli dalam bidang matematika adalah
yang mengajar matematika di fakultas tersebut.
Premis Minor : Ia adalah seorang yang ahli dalam bidang matematika
Konklusi : Sebab itu, ia mengajar matematika di fakultas tersebut ahli
dalam bidang matematika.
c.Kita harus membantu usaha perikemanusiaan yang telah dicetuskan oleh presiden. Karena usaha itu merupakan jalan yang paling baik untuk memajukan putra-putri Irian Jaya.
Jawab : Silogisme kategorial
Premis Mayor : Usaha perikemanusiaan yang telah dicetuskan oleh
presiden adalah untuk memajukan putra-putri Irian Jaya.
Premis Minor : Usaha itu merupakan jalan yang paling baik
Konklusi : Sebab itu, usaha itu merupakan jalan yang paling baik
untuk memajukan putra-putri Irian Jaya.
d.Mereka menerima syarat kerja itu, karena mengandung pasal-pasal yang memberikan harapan untuk perbaikan nasibnya.
Jawab : Silogisme hipotesis
Premis Mayor : Syarat kerja itu, mengandung pasal-pasal yang
memberikan harapan untuk perbaikan nasibnya.
Premis Minor : Mereka menerima syarat kerja itu
Konklusi : Sebab itu, mereka menerima syarat kerja itu yang mengandung
pasal-pasal yang memberikan harapan untuk perbaikan nasibnya.
e.Ia pasti berhasil dalam dunia usaha internasional, karena ia menguasai lima bahasa dunia.
Jawab : Silogisme hipotesis
Premis Mayor : Jika ia menguasai lima bahasa dunia, maka ia pasti berhasil dalam
dunia usaha internasional.
Premis Minor : Ia menguasai lima bahasa dunia
Konklusi : Sebab itu, ia pasti berhasil dalam dunia usaha Internasional.
f.Ia harus memasuki perguruan tinggi, karena ia berbakat.
Jawab : Silogisme hipotesis
Premis Mayor : Jika ia berbakat, maka ia harus memasuki perguruan tinggi
Premis Minor : Ia berbakat
Konklusi : Sebab itu, ia harus memasuki perguruan tinggi
Readmore »

Anggaran Akuntansi Manajemen ( Nur Anisa E.U 10207810 3EA01 )

1. Anggaran Biaya Penjualan
Anggaran Penjualan adalah merupakan suatu penentuan jumlah unit penjualan yang diperkirakan akan dijual di dalam suatu perusahaan untuk periode yang akan datang. Pada umumnya anggaran penjualan ini akan menyebutkan jumlah unit yang dijual serta harga jual per unit produk tersebut untuk masing-masing daerah penjualan yang ada. Dengan demikian, maka dari anggaran penjualan yang disusun tersebut akan dapat diketahui proyeksi penerimaan pendapatan perusahaan dari penjualan produk serta jumlah unit untuk masing-masing jenis produk yang dijual.
Untuk menyusun anggaran penjualan ini perlu disusun peramalah penjualan perusahaan dengan mempergunakan model yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi dari penjualan produk perusahaan.

2. Anggaran Produksi
Anggaran produksi merupakan skedul rinci yang mengidentifikasi produk atau jasa yang harus dihasilkan atau disediakan untuk meraih penjualan yang dianggarkan dan kebutuhan persediaan. Anggaran produksi dapat disusun setelah mengetahui berapa besar rencana penjualan untuk masing-masing produk. Rencana penjualan ini dapat dilihat dalam anggaran penjualan. Berdasarkan rencana penjualan yang telah tersusun tersebut serta dengan mempertimbangkan perubahan persediaan produk akhir yang ada, maka anggaran produksi dapat disusun.
• Di dalam pemilihan pola produksi untuk perusahaan, maka manajemen selayaknya mempertimbangkan berbagai macam faktor yang berhubungan dengan biaya-biaya yang menjadi tanggungan perusahaan apabila perusahaan tersebut memilih salah satu dari pola produksi antara lain : Pola produksi konstan, Pola produksi bergelombang, Pola produksi moderat.



3. Anggaran Biaya Bahan Baku

Anggaran Biaya Bahan Baku merupakan pembelian yang diperlukan untuk sepanjang tahun yang dirinci untuk setiap jenis bahan baku untuk memenuhi kebutuhan produksi dan untuk tujuan persediaan yang diinginkan. Apabila anggaran bahan baku telah disusun, maka anggaran bahan baku telah dapat disusun pula. Dengan dasar kebutuhan bahan baku yang akan dibeli ini maka manajemen perusahaan akan deapat memperhitungkan berapa besarnya dana yang diperlukan dalam pembelian bahan bakuuntuk keperluan proses produksi dalam perusahaan yang bersangkutan.


4. Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung

Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung merupakan unsur penting yang akan dikendalikan biayanya, Karena tenaga kerja langsung salah satu unsur pembentuk harga pokok produksi. Tanpa adanya pengendalian tenaga kerja langsung yang baik, maka besar kemungkinan bahwa biaya tenaga kerja langsung ini menjadi lebih besar dari biaya yang sewajarnya, sehingga harga pokok produksi akan menjadi bertambah besar. Kondisi ini tentu saja akan menurunkan daya saing perusahaan.
• Untuk mengadakan perhitungan terhadap biaya tenaga kerja langsung yang dipergunakan di dalam pelaksanaan proses produksi, maka perlu ditentukan dahulu satuan dasar yang akan dipergunakan untuk perhitungan tersebut. Satuan dasar ini penting artinya karena dengan adanya satuan dasar, maka kesimpangsiuran di dalam penyusunan biaya tenaga kerja langsung tersebut akan dapat dihindarkan.
• Pada umumnya untuk menyusun perhitungan biaya tenaga kerja langsung dikenal 2 macam dasar perhitungan, yaitu upah per unit produk dan upah per jam. Masing-masing sistem upah tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga sebelum mengadakan pemilihan sistem mana yang dipergunakan di dalam perusahaan maka perlu mempelajari terlebih dahulu sistem mana yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.


5. Biaya Overhead Pabrik

Anggaran Biaya Overhead Pabrik merupakan komponen ketiga di dalam penyusunan perhitungan besarnya harga pokok produksi. Biaya overhead pabrik terdiri dari seluruh biaya yang terjadi di dalam pabrik kecuali biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
• Untuk menyusun biaya overhead pabrik ini manajemen akan menetapkan besarnya tarif biaya overhad pabrik atas dasar anggaran biaya overhead pabrik yang akan dikeluarkan pada tahun yang akan datang yang dibebankan kepada setiap unit produk yang diproduksikan. Manajemen perusahaan akan memilih suatu variable sebagai dasar perhitungan biaya overhead pabrik yang ada dalam perusahaan. Pada dasarnya manajemen perusahaan akan mempergunakan dasar jam kerja buruh langsung untuk mengadakan perhitungan besarnya biaya overhead pabrik di dalam perusahaan tersebut.

6. Anggaran Persediaan

Anggaran Persediaan merupakan jumlah persediaan yang dibutuhkan untuk bahan baku langsung dan persediaan produk jadi untuk anggaran harga pokok produk dijual dan neraca dianggarkan secara terinci untuk persediaan akhir yang diharapkan dan unit produk yang terjual.


7. Anggaran Biaya Non Produksi

Anggaran Biaya Non Produksi merupakan sruktur terinci yang tidak termasuk dalam biaya-biaya produksi. Selain itu biaya non produksi ini hanya sebagai penunjang kegiatan produksi sehingga tidak akan mempengaruhi penjualan yang sudah dianggarkan dan kebutuhan persediaan.


8. Anggaran Pengeluaran Modal

Anggaran Pengeluaran Modal merupakan anggaran yang mengumpulkan laba sebanyak-banyaknya dengan mengeluarkan semua aktiva atau modal yang dimiliki. Oleh karena itu dalam anggaran ini harus sangat teliti dalam mengambil keputusan untuk menghindari kerugian yang sangat besar.


9. Anggaran Kas

Anggaran Kas merupakan anggaran yang sederhana menunjukkan saldo awal kas, ditambah kas masuk yang diantisipasi lebih, dikurangi pengeluaran kas yang diantisipasi, saldo kas lebih atau kurang maupun yang akan mungkin perlu dipinjam.


10. Anggaran Rugi-Laba

Anggaran Rugi-Laba merupaka hasil akhir dari semua anggaran operasional seperti penjualan, harga pokok penjalan, biaya komersil dan biaya adminstrasi dan keuangan diringkas dalam laporan laba-rugi dianggarkan.


11. Anggaran Neraca

Anggaran Neraca adalah neraca yang memberikan gambaran saldo akhir aktiva, utang, dan modal yang diantisipasi jika rencana yang dianggarkan terlaksana dengan baik.


12. Anggaran Posisi Keuangan
Perubahan Posisi Keuangan adalah memuat mengenai rencana perubahan aktiva, utang, dan modal perusahaan selama periode yang dianggarkan untuk mengetahui posisi keuangan suatu perusahaan.
Readmore »

Jumat, 12 Maret 2010

TUGAS IV Tulisan Ilmiah Populer

Nama : Nur Anisa Eka Utami
Npm : 10207810
Kelas : 3EA01
Mata KuL. : Bahasa Indonesia 2 ( softskill )

BAB I
Pendahuluan

Bermahasiswa yang baik dan benar

1.1 Latar Belakang

Menjadi mahasiswa bukan untuk menaikkan status sosial atau untuk tujuan-tujuan lain, melainkan untuk belajar lebih banyak dan lebih intens sebagai bekal menghadapi masa depan bangsa. Sesuai konsepsi kemahasiswaan, mahasiswa adalah insan akademis. Karena itu mahasiswa memiliki tanggung jawab intelektual kepada masyarakat yang ikut mensubsidi biaya kehidupan akademis mahasiswa dari baru diterima hingga lulusnya menjadi seorang sarjana melalui pembayaran pajak. Karena itu mahasiswa perlu menjadi mahasiswa yang benar-benar berjiwa mahasiswa. Salah satunya adalah memiliki kultur ilmiah dalam berkehidupan sehari-hari. Untuk merumuskan pengembangan kultur ilmiah dalam bahasa yang lebih sederhana dan generik dengan bermacam displin ilmu, salah satunya adalah dengan menumbuhkan budaya membaca, menulis, dan berdiskusi.
Belajar di perguruan tinggi merupakan pilihan strategik untuk mencapai tujuan individual bagi mereka yang menyatakan diri untuk belajar melalui jalur formal tersebut. Kesenjangan persepsi dan pemahaman penyelenggara pendidikan, dosen dan mahasiswa mengenai makna belajar di perguruan tinggi dapat menyebabkan proses belajar bersifat disfungsional. Masih banyak diantara mahasiswa belum menyadari dengan baik untuk apa sebenarnya dia menjadi mahasiswa.

1.2 Perumusan Masalah

Semua tempat adalah sekolah dan semua waktu adalah belajar. Demikian kesimpulan provakatif tokoh-tokoh besar demokratisasi pendidikan yang selama ini digaungkan. Menjadi mahasiswa, mengkonsekuensikan proses pembelajaran yang mesti dijalani, sebagai syarat sosial untuk menyandang predikat tersebut. Artinya, bukan mahasiswa kalau tidak belajar.
Tidak banyak mahasiswa yang mengetahui dan memahami bagaimana menjadi mahasiswa yang baik dan benar sewaktu berkuliah, dan untuk apa sebenarnya mereka berkuliah ? yang pada akhirnya akan memiliki gelar sarjana.jika seorang mahasiswa memahami maksud dan tujuan untuk apa berkuliah maka hal yang perlu dilakukan adalah berpikir dan memperhitungkan dengan teliti apa yang harus dilakukan sewakyu menjadi mahasiswa.
seorang mahasiswa haruslah memiliki pola pikiran yang baikagar bisa mengembangkan potensi diri yang dimiliki dan menjadikan kuliah sebagai langkah awal untuk meraih kesuksesandi kemudian hari.dengan memanfaatkan kesempatan yang telah ada seorang mahasiswa harus bisa mengikuti aturan perkuliahan yang telah ditetapkan oleh perguruan tinggi tersebut,serta memberikan contoh yang baik lepada generasi-generasi yang berikutnya.

BAB II
Motivasi masuk perguruan tinggi

2.1 Untuk memperoleh status sosial yang tinggi

Menurut Max Weber (1978), status dapat berarti sebuah klaim yang efektif bagi penghargaan sosial yang berkenaan dengan privileges positif atau negatif; yang secara tipikal didasarkan pada:
(a) gaya hidup
(b) pendidikan formal
(c) warisan turun-temurun atau prestise pekerjaan. Dalam pandangan sosiologis ini terlihat bahwa status di dalamnya inheren terdapat pengakuan atau keinginan untuk diakui oleh orang lain atau masyarakat sehingga bisa memperoleh privileges, bentuk-bentuk hak istimewa atau perlakuan khusus dan fasilitas kemudahan dalam akses sosial, politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya.
Dari perspektif ini bisa dipahami mengapa banyak orang yang begitu silap dan ambisius untuk memiliki gelar akademik atau kesarjanaan, meskipun tidak melalui jalur pendidikan tinggi yang resmi dan formal. gelar akademik yang diraih oleh seseorang secara legal dan prosedural termasuk kategori status yang diusahakan atau diperoleh karena upaya dan proses pendidikan formal yang telah rampung dijalaninya.
Dalam bahasanya Donald J Treiman, status seperti ini disebutnya sebagai status attainment, yakni suatu proses yang harus dilalui setiap individu dalam meraih kedudukan dalam stratifikasi sistem sosial di masyarakat. Dalam stratifikasi sosial seperti ini, maka pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan menjadi faktor-faktor kunci yang menentukan. Status sosial yang diperoleh atau diusahakan melalui kerja dan proses tadi, umpamanya melalui sistem pendidikan formal, itu berbeda dengan status dan gelar yang bersifat warisan atau karena faktor keturunan (ascribed; status).

2.2 Untuk menghindari menjadi penganggur

Menjadi sesuatu hal yang sangat tidak di inginkan oleh siapapun, apalagi saat sekarang ini persaingan begitu ketat kalau hanya mengandalkan ijazah sma orang-orang tidak akan melirik sedikitpun karena mereka lebih mengutamakan lulusan sarjana yang lebih punya taste. Tragis memang karena setiap tahunnya jutaan siswa sma akan lulus dari sekolah masing-masing dan otomatis merubah status dari siswa menjadi mahasiswa bagi siswa yang melanjutkan studinya ke perguruan tinggi, bagi yang tidak melanjut maka statusnya berubah menjadi pengangguran yang jelas menambah angka pengangguran yang merupakan termasuk masalah pokok negara yang tak kunjung selesai.
Dengan menjadi mahasiswa kita sedikit mengurangi beban pemerintah yaitu tidak menambah angka pengangguran, namun justru menambah sumber daya manusia untuk bisa di gunakan untuk memperjuangkan bangsa ini ke depan.Jadi kita kuliah bukan hanya ajang untuk meraih gelar tapi juga ajang untuk membantu beban negara untuk tidak menambah angka pengangguran yang setiap tahunnya terus bertambah. Jadi untuk mencegah menjadi pengangguran salah satu tindakan tercepat adalah kuliah.
Salah satu hal yang membuat potensi pengangguran ini begitu tinggi adalah adanya kebijakan pemerintah yang hanya berusaha menyelamatkan sektor industri tanpa
memberi perlindungan terhadap para pekerja. Sektor yang paling banyak berpotensi menghasilkan pengangguran adalah perkebunan kelapa sawit, industri garmen dan TPT, alas kaki hingga mebel. Untuk menghindari gejolak sosial ini, masyarakat harus mendorong supaya pemerintah juga memberi jaminan tidak akan terjadi PHK ataupun memberi sanksi tegas terhadap pengusaha yang menggunakan kesempatan krisis ini untuk melakukan pengurangan pekerja.

2.3 Untuk mengembangkan kemampuan diri

Mendapat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.00 mungkin impian bagi setiap mahasiswa. Harapan saat lulus kuliah mendapat IPK tinggi dengan masa kuliah yang pendek sangat menjadi idaman. Itu dari sisi jika kita berada pada posisi sebagai mahasiswa. Apa yang terjadi jika impian itu kandas ditengah semester berjalan. Mahasiswa, dosen, juga manusia biasa. Ada batas dan kemampuan untuk bisa mencapai semua impian tersebut. Ada yang harus diperhatikan, yaitu “Self-esteem & self-concept“, dimensi pengembangan diri pada mahasiswa dan dosen sangat diperlukan. Fungsi dosen wali memang diperlukan disini, apa fungsi utama dosen wali?
Membimbing dan mengarahkan kemana arah dan tujuan mahsiswa agar cepat bisa menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu dan mendapat IPK yang memenuhi standar kelulusan.Walaupun tidak hanya IPK besar dan lulus tepat waktu. Kejadian yang pernah saya cermati tidak selamanya mahasiswa dengan IPK besar dan tepat waktu mengalami waktu tunggu untuk mendapat pekerjaan pendek, malah mahasiswa dengan IPK yang standar antar 2,4 sampai 2,8 bisa lebih cepat mendapat kerja. Lalu ada apa dibalik ini semua? Mengapa mahasiswa yang lebih pintar kadang waktu tunggu mendapat kerja lebih lama dibanding dengan mahasiswa yang biasa-biasa saja? Jika anda seorang mahasiswa, hindari pikiran “lebih baik biasa-biasa saja kuliah, toh yang pinter juga lama dapet kerjanya” bukan itu maksudnya. IPK besar dan kuliah tept waktu tetap bagus, hal ini diperlukan sebagai penilian pertama bagaimana kemampuan intelektual seseorang.

Apa yang perlu dikembangkan pada diri mahasiswa?

1. Tingkat aspirasi mahasiswa
Mahasiswa artinya siswa dewasa, mereka memiliki aspirasi sendiri untuk bisa belajar dengan caranya sendiri. Dosen hanya mendukung saat mahasiswa sudah mulai keluar jalur. Biarakan pola belajar dikembangkan oleh mahasiswa sendiri. Tidak sedikit juga dosen merasa dirinya lebih pintar kemudian menularkan pola belajarnya saat masih menjadi mahasiswa kepada mahasiswa bimbingannya. Kalau ilmu yang diturunkan tidak masalah, akan tetapi pola belajar biarkan mahasiswa yang menentukan. Tekankan pada mahasiswa untuk tanggung jawab terhadap kuliahnya sendiri dan mengembangkan potensi-potensi akademiknya. Artinya jika dia salah di semester awal, maka akan berakibat buruk diakhir semester bahkan akan berdampak mendapat gelar MA ( Mahasiswa Abadi

2. Hilangkan Keraguan
Kegelisahan atau keraguan mencerminkan pola perilaku dan persepsi yang terkait dengan ketidakstabilan emosional, kurangnya objektivitas dan meng-hiperbolik kesulitan tentang tes dan menjaga harga diri dalam kaitannya dengan prestasi akademis. Dosen wajib menekankan bahwa semua mata kuliah itu mudah dan bisa ditempuh dengan dengan baik. Mahasiswa harus pula berpikir sanggup menyelesaikan mata kuliah yang diambil dengan nilai baik. Intinya kesulitan bisa diatasi, mata kuliah susah buat jadi mudah, dosen “killer” tidak masalah toh dosen juga manusia biasa bukan dewa.
3. Mengarahkan sesuai Minat Bidang Kajian dan Kepuasan diri
Hal ini akan menunjukkan tingkat motivasi internal dalam diri mahasiswa, melibatkan cinta belajar demi dirinya sendiri, yang diperoleh oleh para mahasiswa melakukan pekerjaan akademik dan dalam mempelajari mata kuliah baru. Tidak sedikit mahasiswa merasa minder bahkan tidak percaya diri saat masuk dalam dunia kerja tidak bisa apa-apa. Hal ini disebabkan dosen kurang mengarahkan kemana minat mahasiswa dan mahasiswapun kurang mau mengembakan dirinya.
4. Keempat Latih Kepemimpinan dan Inisiatif
Hal ini akan tercermin ketika seorang mahasiswa menunjukkan penguasaan pengetahuan, kemauan, dan kemampuan untuk membantu dan memberikan bimbingan kepada orang lain, dan bangga tanpa layar atau tameng kesombongan dalam kemampuan melakukan pekerjaan dengan cepat dan baik. Hal sederhana adalah arahkan mahasiswa untuk BERTANGGUNG JAWAB terhadap rencana studinya. Tanamkan bahwa jika dia gagal, maka tidak sedikit orang-orang yang dikecewakan jika dia tidak konsekuen menjalankan rencana studinya. Orang tua, adik, kakak, saudara, teman, atau mungkin saja kekasihnya akan kecewa jika dia gagal dalam studi.
5. Alienasi
adalah sejauh mana mahasiswa merasa diterima oleh civitas akademik dan dihormati oleh para dosen serta rekan-rekan untuk pribadinya sendiri nilai dan integritas sebagai lawan dari perasaan terisolasi atau ditolak oleh lingkungan civitas akademik. Artinya pengakuan dari lingkungan sekitar kehidupan mahasiswa sehari-hari, maka bagi para dosen berusahalah bersikap adil. Jangan menganggap remeh kemampuan mahasiswa yang biasa-biasa pertasi akademiknya. Dibalik kekurangan prestasi akademik mahasiswa pasti masih memiliki potensi besar yang melekat dalam dirinya. Kalau mahasiswa pandai sudah pasti akan lebih mudah mendapat pengakuan dari pra dosen dan teman-temannya. Nah kalau begitu bagaimana nasib MaSaKom? Mahasiswa Satu Koma (mahasiswa dengan IPK Satu Koma Alhamdulillah) apakah tidak punya potensi? belum tentu, kadang dosen harus bertindak ekstra untuk bisa membuat mahasiswa MaSaKom menjadi MaDu KomPas (Mahasiswa Dua Koma Pas untuk lulus) dan meningkatkan menjadi mahasiswa Tiga Koma.

BAB III
Karakteristik perguruan tinggi

3.1 Antara perguruan tinggi dengan sekolah lanjutan
Diperguruan tinggi kita belajarnya lebih fokus yaitu kita lebih banyak belajar sesuai dengan bidang studi yang kita ambil dari awalnya, makanya kita di suruh untuk memikirkan lebih awal tentang jurusan yang kita ambil dengan matang-matang agar tidak menyesal kelak di kemudian hari. Karena banyak sarjana yang tidak bisa menyalurkan ilmunya karena dia tidak tahu akan ilmu yang ia pelajari karena salah jurusan.
Sekolah lanjutan merupakan merupakan sekolah yang memberikan pendidikan mata pelajaran yang bersifat dasar,berbeda dengan perguruan tinggi yang pendidikannya lebih mengarah kejuruan. Di sekolah lanjutan kita masih diperhatikan oleh guru kita, baik itu pr tidak dikerjakan, blus tidak dimasukin, nilai kita selalu jeblok. Guru masih tetap memberikan pengarahan, berbeda dengan perguruan tinggi tugas tidak selesai, tidak pernah hadir, sudah tidak di perdulikan sama dosen karena kita di anggap sudah dewasa dan ahu apa yang seharusnya kita perbuat.

3.2 Perguruan tinggi sebagai simbol peradaban bangsa

Pendidikan merupakan parameter yang mutlak untuk melihat kemajuan suatu bangsa dan peradaban. Kita telah mengenal peradaban-peradaban bangsa dari peradaban zaman purba, peradaban Timur Tengah dan peradaban dunia modern. Berkaitan dengan peranan pendidikan dalam pembangunan nasional muncul dua paradigma yang menjadi kiblat bagi pengambil kebijakan dalam pengembangan kebijakan pendidikan: Paradigma Fungsional dan paradigma Sosialisasi.
Paradigma fungsional melihat bahwa keterbelakangan dan kemiskinan dikarenakan masyarakat tidak mempunyai cukup penduduk yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan sikap modern. Menurut pengalaman masyarakat di Barat, lembaga pendidikan formal sistem persekolahan merupakan lembaga utama mengembangkan pengetahuan, melatih kemampuan dan keahlian, dan menanamkan sikap modern para individu yang diperlukan dalam proses pembangunan.
Bukti-bukti menunjukkan adanya kaitan yang erat antara pendidikan formal seseorang dan partisipasinya dalam pembangunan. Perkembangan lebih lanjut muncul, tesis Human lnvestmen, yang menyatakan bahwa investasi dalam diri manusia lebih menguntungkan, memiliki economic rate of return yang lebih tinggi dibandingkan dengan investasi dalam bidang fisik.
Sejalan dengan paradigma Fungsional, paradigma Sosialisasi melihat peranan pendidikan dalam pembangunan adalah:
a) mengembangkan kompetensi individu
b) kompetensi yang lebih tinggi tersebut diperlukan untuk meningkatkan produktivitas, dan
c) secara urnum, meningkatkan kemampuan warga masyarakat dan semakin banyaknya warga masyarakat yang memiliki kemampuan akan meningkatkan kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Paradigma pendidikan lnput-Proses-Output, telah menjadikan sekolah bagaikan proses produksi. Murid diperlakukan bagaikan raw-input dalam suatu pabrik. Guru, kurikulum, dan fasilitas diperlakukan sebagai instrumental input. Jika raw-input dan instrumental input baik, maka akan menghasilkan proses yang baik dan akhirnya baik pula produkyang dihasilkan. Kelemahan paradigma pendidikan tersebut nampak jelas, yakni dunia pendidikan diperlakukan sebagai sistem yang bersifat mekanik yang perbaikannya bisa bersifat partial, bagian mana yang dianggap tidak baik. Sudah barang tentu asumsi tersebut jauh dari realitas dan salah. Implikasinya, sistem dan praktek pendidikan yang mendasarkan pada paradigma pendidikan yang keliru cenderung tidak akan sesuai dengan realitas. Paradigma pendidikan tersebut di atas tidak pernah melihat pendidikan sebagai suatu proses yang utuh dan bersifat organik yang merupakan bagian dari proses kehidupan masyarakat secara totalitas.
Perguruan tinggi adalah penelitian ilmiah yang merupak misi dari perguruan tinggi tersebut yaitu dharma kedua dari dharma perguruan tinggi. Yang dimaksud penelitian adalah suatu kegiatan telaah yang taat kaidah bersifat Objektif dalam menentukan kebenaran dan menyelesaikan permasalahan dalam ilmu pengetahuan teknologi serta kesenian
Sebagai simbol peradaban bangsa perguruan tinggi memiliki kebudayaan akademik yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang teramat cepat. Yaitu kebudayaan yang ilmu pengetahuannya memungkinkan manusia untuk mengandalkan alam.Sebagai perguruan tinggi ilmu pengetahuan memegang peranan penting dalam mengembangkan teknologi dalam menentukan kebijaksanaannya untuk meningkatkan tarap hidup masyarakat memperkaya kebudayaan
Ilmuan perguruan tinggi memiliki tugas :
1. Menyiapkan peserta didik ( mahasiswa ) menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik atau propisional dan dapat menerapkan / mengembangkan dan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan teknologi
2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi guna meningkatkan taraf hidup masyarakat sebagai peradapan bangsa
Sebagai peradapan bangsa perguruan tinggi memiliki pandangan hidup pancasila yang mengupayakan mewujutkan sumberdaya Intelektual yang bermoral ketuhanan dan kemanusiaan.

BAB IV
Mahasiswa yang Ideal

Mahasiswa merupakan icon bagi setiap moment perubahan kebijakan di kampus. Bahkan pernah dikatakan bahwa mahasiswa merupakan agen of change dan iron stock bagi masa depan. Inilah makna sebenarnya ”mahasiswa” sebagai kaum intelek dan kritis. Sehingga paradigma ini menuntut setiap mahasiswa untuk aktif dalam setiap moment di kampus dan bahkan sampai di tingkat negara. Mengapa paradigma ini perlu ? jika mahasiswa cuek terhadap perkembangan suatu kebijakan kampus ataupun negara dan jika kebijakan tersebut ternyata menyengsarakan (merugikan) rakyat, truss... siapa yang akan melakukan penentangan dan pengkritisan ? Orang miskin, tukang becak atau para pengusaha ? Jarang !!. Mahasiswa ideal adalah mahasiswa yang memiliki paradigma komperhensif terhadap kehidupan pribadi, sosial dan negara, bahkan dunia. Mahasiswa sebagai kaum intelek selalu kritis terhadap segala perkembangan yang terjadi di lingkungannya tanapa melupakan kebutuhan pribadinya, seperti kuliah, dll.Namun, terkadang akan ada benturan antara kepentingan pribadi dan sosial. Dan Mahasiswa Ideal cenderung mengutamakan kepentingan sosial dibanding kepentingan pribadi. Ini prinsip yang harus dipegang oleh mahasiswa.

4.1 Selalu melatih diri dalam keterampilan memimpin

Saat ini di seluruh dunia termasuk negara-negara maju sedang menghadapi fenomena peningkatan jumlah pengangguran (jobless growth phenomenon). Pertumbuhan ekonomi dan industri yang terjadi tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan kesempatan kerja. Salah satu penyebab utamanya adalah penggunaan tekhnologi mesin yang dianggap jauh lebih efisien untuk menggantikan peran manusia. Hal ini tentu saja menjadikan persaingan dalam mencari pekerjaan di masa datang akan semakin ketat, apalagi dengan adanya globalisasi di mana tidak ada lagi penghalang dalam mendapatkan pekerjaan selain kompetensi yang disyaratkan.Masa depan membutuhkan pribadi-pribadi berjiwa kepemimpinan yang dapat mendorong dan menciptakan perubahan (drive to change), bukannya yang hanya dapat mengikuti perkembangan (drive by change), apalagi yang anti perubahan (resist to change) (Harsiwi, 2003). Kemampuan untuk menjadi agent of change inilah salah satu hal yang merupakan kelebihan manusia dari mesin-mesin teknologi. Agar dapat memenuhi hal tersebut sudah seharusnya setiap mahasiswa yang diharapkan nantinya dapat berperan sebagai pelaku utama di masa depan harus sudah membuat target dan persiapan matang untuk mencapainya. Sebagaimana dikatakan oleh Wiranto Arismunandar (2003) bahwa dengan memiliki target dari awal mereka akan memahami dan bersungguh-sungguh dengan motivasi yang tinggi mendapatkan kemampuan dan keterampilan yang perlu dimiliki. Walaupun seiring dengan perjalanan waktu nantinya akan sangat mungkin terjadi perubahan dalam keinginan dan cita-citanya tersebut. Hal ini sangat wajar dan manusiawi terjadi sesuai dengan bertambahnya pengetahuan dan pengalaman yang bersangkutan. Untuk menghasilkan sesuatu yang sempurna memang adalah hal yang tidak mungkin. Manusia hanya dapat terus-menerus berusaha melakukan perubahan untuk menjadi lebih baik. Sebagaimana ditulis oleh Hersey dan Blanchard (1982) yang menyatakan bahwa kepemimpinan adalah pola tingkah laku yang ditampilkan ketika mencoba mempengaruhi tingkah laku orang lain seperti yang dipersepsikan oleh orang yang akan kita pengaruhi tersebut. Oleh karena itu segala sesuatu yang menyangkut kepemimpinan secara khusus dan masalah kepribadian secara umum merupakan hal yang lebih membutuhkan contoh dibanding teori. Individu yang dididik sudah pasti akan melihat kepada pendidikan.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Mahasiswa yang baik dan benar adalah mahasiswa yang memiliki nilai dan norma sesuai system yang berlaku mewujudkan totalitas manusia yang utuh dan mandiri sesuai tatacara hidup bangsa. Mahasiswa yang baik juga harus meiliki peranan pembeda antara manfaat dan kerusakan agar tidak terexspresikan melalui korupsi, kolusi dan orasi nilai –nilai moral.Dari sumber diperoleh khususnya di perguruan tinggi yang menyelenggarakan tridharma.
Setiap manusia Memiliki keperibadian yang berbeda-beda ,untuk menjadi seorang mahasiswa yang baik Sangat dibutuhkan semangat, minat, cita-cita oleh seorang mahasiswa. Mahasiswa merupakan harapan besar bagi bangsa dan negaranya, untuk menyumbangkan ilmu pengetahuan melalui penelitian-penelitian yang dilakukannya. Seseorang yang mempuyai pendidikan yang baik berbeda cara berpikirnya dari orang yang hanya tamatan sma.
Jadi secara umum mahasiswa memiliki peranan yang kuat untuk menyumbangkan ilmu pengetahuan, begitu juga perguruan tinggi harus kompetitif untuk menciptakan mahasiswa –mahasiswa yang mempunyai potensi untuk memajukan bangsa.

5.1 saran
Sebagai mahasiswa yang baik dan benar harus patuh dan taat kepada Tuhan, orang tua dosen bangsa dan negara, selain itu juga mahasiswa harus mamiliki prilaku, nilai norma sesuai system yang berlaku sehingga mewujudkan totalitas manusia yang utuh dan mandiri sesuai tata cara hidup bangsa, di samping itu juga sebagai manusia yang baik dan benar harus memiliki pandangan jauh kedepan membutuhkan kemampuan oleh pikir yang komprohensif dan kreatif sehingga secara realistik dapat menentukan sasaran dan tujuan yang hendak di capai dalam kurun waktu tartentu, tanpa penelitian dan pandangan seperti ini, tanpa mencapai hasil kemajuan yang cukup berarti.Oleh karna itu mahasiswa adalah agen pembaharuan yang utama bagi kemajuan negaranya.
Readmore »